Share

Target BEI 2022: Nilai Transaksi Harian Rp13,5 Triliun hingga Tambah Investor Baru 30%

Agregasi Harian Neraca, Jurnalis · Selasa 15 Februari 2022 14:09 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 15 278 2547554 target-bei-2022-nilai-transaksi-harian-rp13-5-triliun-hingga-tambah-investor-baru-30-RHmqLry8eT.jpg Target BEI di 2022 (Foto: Okezone)

JAKARTA – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mendorong pasar modal Indonesia semakin tumbuh positif seiring dengan penguatan ekonomi nasional.

”Beberapa hal yang kami targetkan pada tahun 2022 di antaranya, pertama, asumsi rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) sebesar Rp13,5 triliun," kata Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Laksono Widodo dikutip Harian Neraca, Selasa (15/2/2022).

Selain itu, lanjutnya, BEI juga memproyeksi jumlah pencatatan efek baru sebanyak 68 efek baru. Kemudian, dari sisi investor, Laksono mengharapkan ada jumlah penambahan investor baru sebanyak 30 persen dari 2021.

Di samping itu, lanjut Laksono, sesuai Master Plan 2021-2025, tema pengembangan BEI tahun 2022 adalah “Memperluas Produk dan Partisipan, Meningkatkan Layanan Non-cash Equities”. Sehingga, ada beberapa inovasi BEI yang dampaknya akan nyata terlihat ke pasar.

Laksono menyebutkan, seperti perlindungan investor yang kontinu, yaitu implementasi Papan Pemantauan Khusus, sebagai lanjutan dari penerapan Daftar Efek dalam Pemantauan Khusus yang sebelumnya telah berlaku sejak Juli 2021, sebagaimana diatur dalam Peraturan Nomor II-S tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas dalam Pemantauan Khusus.

Kemudian, lanjut Laksono, pihaknya juga akan melakukan peningkatan pencatatan efek, melalui Enhancement e-Registration dan e-IPO sesuai masukan pelaku pasar dan mempermudah penggunaan sistem tersebut kepada publik, serta peningkatan disclosure, melalui enhancement IDXNet dan XBRL.

Selain itu, Laksono menyampaikan, bursa mendukung penerapan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola atau environmental, social and governance (ESG) pada tahun ini melalui pengembangan perdagangan karbon dan skoring ESG atas perusahaan tercatat di BEI yang bekerjasama dengan sustainalytics.

"Kemudian, peningkatan perdagangan EBUS (Efek Bersifat Utang dan Sukuk) melalui enhancement fitur SPPA (Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif) sesuai masukan Pengguna Jasa SPPA, serta peluncuran produk baru, di antaranya adalah waran terstruktur dan indeks-indeks baru," kata Laksono.

Dirinya pernah bilang, selama masa pemulihan ekonomi ada kemungkinan pebisnis akan mengalihkan dana dari pasar modal untuk ekspansi usaha pribadi.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Sementara dari sisi investor ritel, tren kerja hybrid antara kantor dan rumah sedikit banyak akan mempengaruhi transaksi. Sebab, investor ritel tidak lagi fokus ke gadget masing-masing seperti ketika 100% bekerja di rumah pada 2020 dan 2021.

“Tetapi mereka yang sudah terbiasa di pasar modal lalu mendapatkan return yang baik pasti akan tetap bertahan,” imbuhnya.

Bursa Efek Indonesia juga menyebutkan ada unikorn, setelah PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) yang mau melakukan initial public offering (IPO).

BEI pun menargetkan 55 emiten baru pada 2022, naik dari 54 emitan baru pada 2021. Laksono pun optimistis terkait pencatatan saham unikorn di Indonesia. Setelah aturan Multiple Voting Share (MVS) ditetapkan, maka minat IPO unikorn semakin besar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini