Share

Tinggalkan Dolar AS, China Ajak Negara G20 Pakai Mata Uang Lokal

Michelle Natalia, Sindonews · Rabu 16 Februari 2022 15:06 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 16 320 2548234 tinggalkan-dolar-as-china-ajak-negara-g20-pakai-mata-uang-lokal-lI1tJQAYVZ.jpg Tinggalkan dolar AS, China ajak negara G20 pakai mata uang lokal. (Foto: Reuters)

JAKARTA - China menjadi salah satu peserta kesepakatan Local Currency Settlement (LCS) dengan Indonesia. Dengan demikian, tidak lagi memakai dolar AS.

LCS adalah kerja sama Indonesia dengan sejumlah bank sentral negara lain, yang bertujuan untuk menggunakan mata uang lokal setiap kali berlangsung transaksi perdagangan bilateral dan investasi.

Melalui kerjasama ini, masing-masing negara tidak perlu lagi bergantung dengan dolar AS, sehingga, ketika dunia usaha ingin melakukan aktivitas ekspor impor, maka tidak perlu lagi menukarkan uang ke dolar AS. Dengan demikian, kebutuhan dolar AS di pasar akan berkurang.

 BACA JUGA:Indeks Dolar Anjlok Jelang Pengumuman Inflasi AS

Sebagai informasi, kesepakatan LCS antara Indonesia dengan Jepang, Thailand dan Malaysia sudah berjalan lebih dulu, dan cukup banyak pengusaha yang memanfaatkan hal tersebut. Kesepakatan terbaru adalah dengan China.

 BACA JUGA:Indeks Dolar AS Menguat, Data Tenaga Kerja Positif

"China akan bekerja sama dengan Indonesia dan negara-negara Asia lainnya untuk meningkatkan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan dan investasi," ujar Gubernur Bank Sentral China atau People's Bank of China (PBoC) Yi Gang dalam Finance Track Main and Side Events February Series di pada Rabu (16/2/2022).

Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara berkembang Asia telah membuat kemajuan substansial dalam menggunakan mata uang lokal dalam perdagangan dan investasi, yang mendorong ketahanan ekonomi mereka untuk mengatasi guncangan abadi.

"China akan menjaga kebijakan moneter akomodatifnya tetap fleksibel dan berada di tingkat yang tepat. Kami juga akan meningkatkan dukungan untuk bidang-bidang utama dan hubungan yang menyala dalam perekonomian," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini