Share

Biang Kerok yang Bikin Harga Daging Sapi Mahal

Advenia Elisabeth, MNC Portal · Selasa 01 Maret 2022 14:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 01 320 2554626 biang-kerok-yang-bikin-harga-daging-sapi-mahal-BrlvAEoIO1.jpg Biang kerok yang bikin harga daging sapi mahal. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Ketua Jaringan Pemotongan dan Pedagang Daging Indonesia (Jappdi) Asnawi mengungkapkan alasan tingginya harga daging sapi di Indonesia.

Dia menyebut, hal itu disebabkan karena harga di Australia yang tinggi, serta kurangnya pasokan dari negara tersebut.

"Masalahnya, di Australia, daging sapi sudah mengalami kenaikan harga. Cuma persoalannya, Indonesia ini menjadi pasar dunia yang dikuasai hanya satu negara eksportir sapi, yakni Australia. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka, apa kata mereka (Australia), pihak importir ngikut aja," terang Asnawi saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Selasa (1/3/2022).

 BACA JUGA:Pengakuan Sejumlah Pedagang Daging Sapi Pilih Tetap Mogok Jualan Hari Ini

Asnawi menjelaskan, kebutuhan sapi siap potong di tiga provinsi di Indonesia yaitu Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, 93 persen di antaranya berasal dari Australia.

Sementara dari sapi lokal hanya 7 persen.

"Dari tingginya kebutuhan sapi impor itu, persoalannya, pasokan sapi dari Australia berkurang karena pengurangan kapasitas ekspor di negara itu yang mestinya 80 persen menjadi hanya 44 persen," jelasnya.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Penurunan kapasitas ekspor tersebut, diungkapkan Asnawi karena Produksi sapi di Australia belum sepenuhnya pulih 100 persen.

"Pertumbuhan sapi belum normal seperti biasanya. Makanya harga daging sapi di beberapa wilayah jadi lebih mahal," tuturnya.

 BACA JUGA:4 Fakta Harga Daging Sapi Mahal hingga Pedagang Mogok Jualan

Dia juga menambahkan, kalau daging sapi di dalam negeri sudah mengalami kenaikan harga sejak Desember 2021.

Adapun kenaikannya sekitar 7 persen-20 persen.

Sebagai informasi, harga daging sapi di pasaran melonjak hingga tembus Rp 140.000 per kilogram.

Padahal, harga normal biasanya di pasar tradisional hanya Rp 120.000 per kilogram.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini