JAKARTA - Pemerintah dinilai perlu mempertimbangkan opsi untuk merelaksasi impor pangan sebagai bentuk antisipasi terhadap kelangkaan dan kenaikan harga.
Pasalnya, saat ini harga beberapa komoditas pangan sedang naik. Salah satunya akibatnya karena invasi Rusia ke Ukraina.
“Sejauh ini inflasi Indonesia masih cukup terkendali. Produk-produk pangan yang selama ini memang dikontrol perdagangannya bisa direlaksasi kuotanya jika memang inflasi mulai menekan. Kebetulan selama ini harga pangan di Indonesia memang sudah lebih mahal daripada pasar dunia akibat pembatasan impor,” terang Associate Researcher Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Krisna Gupta, Sabtu (12/3/2022).
BACA JUGA:Harga Minyak Dunia Meroket ke USD130/Barel Usai AS Larang Impor dari Rusia
Krisna menambahkan, relaksasi impor bisa digunakan untuk menjaga kestabilan perubahan harga.
Di samping itu, sepertinya kenaikan harga beras masih lebih terkendali dibandingkan gandum, jagung ataupun kedelai.
"Indonesia memiliki hubungan dagang yang cukup jauh dengan Ukraina dan Rusia. Hal itu bisa dilihat dari nilai total impor kedua negara hanya berkontribusi pada sekitar 1% dari total impor Indonesia. Sementara itu jumlah investasi Rusia maupun Ukraina ke Indonesia juga tidak signifikan," terangnya.
Dia menyebut, keduanya merupakan sumber utama beberapa barang impor. Ukraina memasok sekitar kurang lebih 24% dari total impor gandum Indonesia pada tahun 2020. Sedangkan, pupuk impor asal Rusia menyumbang sekitar 15% dari total pupuk impor Indonesia.
Mereka banyak membeli produk minyak nabati (kelapa sawit) Indonesia. Walaupun begitu, jumlah transaksinya hanya sekitar 0,5% dari total ekspor sawit Indonesia pada tahun 2020.
BACA JUGA:Masalah Minyak Goreng Bikin 6 Pabrik Harus Tutup, Simak 5 Fakta Menariknya
Menurutnya, untuk jumlah impor gandum dari Ukraina tidak terlalu besar.
Indonesia tetap perlu mencari sumber pemasok gandum lain untuk menghindari dampak kelangkaan kalau perang terus berlangsung.
"Hal ini dibutuhkan untuk menghindari kelangkaan dan kenaikan harga pada bahan pangan yang bersumber dari gandum," imbuhnya.
(Zuhirna Wulan Dilla)