JAKARTA - Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan kebijakan suku bunga acuannya atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) pada hari ini.
Pengumuman ini masuk ke dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI) yang dilakukan pada 16-17 Maret 2022.
Terakhir kali pada RDG BI 10 Februari 2022, BI masih mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,5%.
Lalu apakah hari ini BI akan menaikkan suku bunga acuan atau tetap mempertahankannya? Mengingat bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed menaikkan suku bunga mereka.
Berikut prediksi para ekonom untuk kebijakan suku bunga BI hari ini saat diwawancarai Okezone, Jakarta, Kamis (17/3/2022).
1. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memperkirakan BI menaikkan suku bunga acuan.
"BI diperkirakan menaikkan bunga acuan 25 bps secara bertahap pada RDG kali ini dan pada April mendatang," kata Bhima.
Respon BI sejalan dengan kekhawatiran The Fed naikkan suku bunga 25 bps bukan disebabkan oleh adanya pemulihan ekonomi tapi karena kekhawatiran inflasi tinggi. Proyeksi berbagai lembaga internasional justru saat ini sedang terjadi ancaman global economy slowdown akibat disrupsi pasokan dan risiko geopolitik. Ini merupakan kondisi yang dapat memicu terjadinya tekanan ekonomi baik di AS maupun di negara berkembang, karena konsumen sebenarnya belum siap hadapi kenaikan suku bunga.
2. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan BI tetap mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,5%.
"BI diperkirakan akan mempertahankan BI7DRR tetap di level 3,5% pada RDG bulan Maret 2022," kata Josua.
Josua mengatakan, hal ini mempertimbangkan tingkat inflasi yang masih terkendali serta nilai tukar rupiah yang cenderung stabil di tengah meningkatnya risk off sentimen yang didorong oleh faktor geopolitik Rusia-Ukraina dan normalisasi kebijakan moneter Fed pada FOMC bulan ini. Suku bunga acuan BI saat ini tetap konsisten dalam menjangkar ekspektasi inflasi dan mendorong kestabilan nilai tukar rupiah dalam rangka mendukung momentum pemulihan ekonomi domestik.
3. Pengamat ekonomi dan pasar modal Yanuar Rizky memperkirakan BI menaikkan suku bunga.
"Saya pikir harusnya sih BI itu ahead the curve, di depan kurva kan inflasi akan naik dan rupiah juga akan melemah, rasionalnya ya naikin bunga. Tapi, BI bisa juga nahan bunga karena populis dan tekanan pemerintah," katanya.
4. Analis Pasar Modal Nafan Aji memperkirakan BI menahan suku bunga acuan 3,5%.
"Tetap, pergerakan nila tukar rupiah cenderung stabil. Stabilitas inflasi domestik terjaga, lagipula GWM naik," katanya.
Seperti diketahui, The Fed menaikkan suku bunga acuannya sejak 2018. The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25%.
Kenaikan suku bunga tidak serta merta langsung memadamkan inflasi, Fed menyadari bahwa 0,25 persen tidaklah cukup untuk mencapai tujuan mereka.
Sehingga, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memproyeksikan kenaikan Fed Funds Rate dimungkinkan akan terjadi sebanyak enam kali lebih banyak tahun ini.
Artinya, suku bunga diperkirakan 1,75 persen lebih tinggi pada akhir tahun 2022 dibandingkan tahun sebelumnya.
(Zuhirna Wulan Dilla)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.