Asih menjelaskan, dia terpaksa membeli minyak goreng alternatif lain guna menjaga dagangannya agar tetap komplit di tengah keterbatasan minyak goreng.
"Nah setelah itu tiba-tiba banyak minyak curah di pasar, saya akhirnya beli itu karena kemahalan. Minyak turah saya beli Rp20rb per satu kilo. Tapi besoknya naik lagi jadi Rp22rb," ucapnya.
Adapun permasalahan minyak goreng tidak hanya dirasakan oleh kalangan ibu-ibu saja. Salah satu pelaku pengamanan yakni tukang parkir juga merasakan dampaknya.
BACA JUGA:Serikat Buruh: Jangan Bunuh Kami dengan Minyak Goreng Curah
Menurut Cipto (40) yang merupakan tukang parkir mengatakan, dia menjadi banyak ditanyai oleh ibu-ibu terkait ketersediaan minyak goreng.
"Itu ibu-ibu pada datang kan sampai ngantri juga, tiba-tiba sampai saya banyak ditanyain kan sama ibu-ibu, ada minyak goreng ga, ada minyak goreng ga," ucapnya.
Di balik hal tersebut, salah seorang penjaga minimarket Dian (23) mengaku ikut kebingungan saat terjadi kelangkaan minyak goreng.
Dia mengatakan ketentuan yang diberlakukan pihak minimarket terkait jatah pembelian minyak goreng sering diacuhkan oleh masyarakat.
"Kadang saya ga ngeuh tuh, kan dijatah kan satu orang dua liter. Soalnya kadang suka ada yang balik lagi beberapa kali. Cuman kadang ga ketauan juga kan. Kan kalau kita dua shift," tuturnya.