Share

Wall Street Galau di Tengah Perang Rusia-Ukraina

Antara, Jurnalis · Sabtu 26 Maret 2022 07:24 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 26 320 2568099 wall-street-galau-di-tengah-perang-rusia-ukraina-89dbpIVn9K.jpg Wall street {galau} di tengah perang Rusia-Ukraina. (Foto: Reuters)

JAKARTA - Wall street hari ini, Sabtu (26/3/2022), ditutup dengan indeks S&P 500 berakhir lebih tinggi karena saham sektor keuangan terangkat setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS melonjak ke level tertinggi dalam hampir tiga tahun.

Tercatat pada Indeks Dow Jones Industrial Average bertambah 153,30 poin atau 0,44 persen, menjadi menetap di 34.861,24 poin. Indeks S&P 500 menguat 22,90 poin atau 0,51 persen, menjadi berakhir di 4.543,06 poin. Indeks Komposit Nasdaq jatuh 22,54 poin atau 0,16 persen, menjadi ditutup di 14.169,30 poin.

Kemudian, sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau, dengan sektor energi dan utilitas masing-masing terdongkrak 2,28 dan 1,48 persen, memimpin kenaikan. Sementara itu, sektor teknologi dan konsumen non-primer keduanya turun 0,09 persen.

Lalu, Nasdaq berakhir lebih rendah, dan saham-saham teknologi dan pertumbuhan besar lainnya sebagian besar merosot, tetapi mereka bangkit dari terendah sesi setelah reli di akhir sesi.

 BACA JUGA:Investor Sumringah, Wall Street Naik Didorong Suku Bunga The Fed

Adapun Nasdaq dan S&P 500 mencatat kenaikan solid masing-masing 2,0 persen dan 1,8 persen, dan Dow secara nominal lebih tinggi dengan kenaikan 0,3 persen.

Diketahui, sektor keuangan S&P 500 memberi S&P 500 dorongan terbesar pada Jumat (25/3/2022), naik 1,3 persen, sementara sektor teknologi dan konsumen non-primer adalah dua sektor utama yang berakhir lebih rendah hari ini.

Di mana investor menilai seberapa agresif Federal Reserve akan memperketat kebijakannya setelah Ketua Fed Jerome Powell minggu ini mengatakan bahwa bank sentral perlu bergerak "cepat" untuk memerangi inflasi yang tinggi dan meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga 50 basis poin pada Mei.

Pada imbal hasil obligasi pemerintah AS melonjak pada Jumat (25/3/2022), dengan imbal hasil acuan obligasi pemerintah 10-tahun melonjak ke level tertinggi hampir tiga tahun, karena pasar bergulat dengan inflasi tinggi dan Federal Reserve yang dapat dengan mudah memicu penurunan karena secara agresif memperketat kebijakan.

 BACA JUGA:Wall Street Bervariasi, Investor Nantikan Keputusan Suku Bunga The Fed

Sementara, imbal hasil obligasi pemerintah AS sepuluh tahun terakhir di 2,492 persen setelah sebelumnya naik di atas 2,50 persen untuk pertama kalinya sejak Mei 2019.

Untuk pasar ekuitas memperkirakan lingkungan suku bunga yang lebih tinggi, kata Keith Buchanan, manajer portofolio di Globalt Investments di Atlanta.

Sehingga, itu menyebabkan saham bank berkinerja lebih baik, sementara "menambahkan lebih banyak tekanan ke elemen pasar yang lebih berisiko," seperti saham pertumbuhan, katanya.

Dilanjut, suku bunga pinjaman yang lebih tinggi menguntungkan bank, sementara suku bunga yang lebih tinggi negatif untuk saham teknologi dan pertumbuhan, yang penilaiannya lebih bergantung pada arus kas masa depan.

Kini, saham perusahaan yang sedang berkembang seperti Nvidia Corp melemah setelah memimpin rebound Wall Street awal pekan ini.

Untuk sektor utilitas juga naik tajam, mencapai rekor tertinggi karena investor menyukai saham-saham defensif dengan perang Rusia-Ukraina yang masih berkecamuk setelah sebulan.

Sektor ini berakhir naik 1,5 persen hari ini dan naik 3,5 persen untuk minggu ini, sementara sektor energi berakhir naik 2,3 persen hari ini dan melonjak lebih dari 7,0 persen untuk minggu ini menyusul kenaikan tajam harga minyak.

Moskow memberi isyarat pada Jumat (25/3/2022) bahwa pihaknya mengurangi ambisinya di Ukraina untuk fokus pada wilayah yang diklaim oleh separatis yang didukung Rusia.

Menurut, Ekonom di Citibank memperkirakan empat kali kenaikan suku bunga 50 basis poin dari The Fed tahun ini, bergabung dengan bank-bank Wall Street lainnya dalam memperkirakan jalur pengetatan yang agresif dengan latar belakang melonjaknya inflasi.

Bank sentral AS pekan lalu menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2018.

"Pasar benar-benar digerakkan secara makro," kata Steve DeSanctis, ahli strategi ekuitas kapitalisasi kecil dan menengah di Jefferies di New York. "Fundamental perusahaan tidak terlalu penting."

Sebagai informasi, volume transaksi di bursa AS mencapai 11,92 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 14,28 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini