JAKARTA - Permukan tanah di Jakarta terus mengalami penurunan setiap tahunnya. Salah satu faktor penyebabnya adalah penyerapan air tanah oleh rumah tangga di DKI Jakarta.
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan saat ini penurunan permukaan tanah di Jakarta sekitar 10 cm sampai 12 cm pertahun.
Jika hal tersebut terus berlanjut, maka diperkirakan sungai-sungai yang berada di Jakarta akan sulit mengalir kelaut secara gravitasi.
BACA JUGA:Berantas Spekulan Tanah di IKN Nusantara, Ini Tugas Satgas Pertanahan
Karena pemukaan tanah di Jakarta bakal lebih rendah dari permukaan air laut sedangkan permukaan air laut akan lebih tinggi akibat perubahan iklim yang terjadi saat ini.
"Kalau itu terjadi maka 15 tahun saja sejak 2020 kemarin, 13 sungai yang melewati Jakarta tidak bisa mengalir secara gravitasi ke laut," kata Basuki pada penandatanganan KPBU bersama bank Mandiri, Jumat (1/3/2022).
Basuki mengatakan salah satu yang paling penting untuk mencegah hal tersebut adalah membangun bendungan untuk penyediaan air bersih yang di suply kepada masyarakat Jakarta.
Sehingga, warga Jakarta tidak lagi mengambil air tanah.
"Kalau nanti Jatiluhur I jadi, Jatiluhur II jadi, Kemudian Karian Serpong Jadi, kita baru bisa bilang Jakarta stop memakai air tanah," sambungnya.
Pembangunan bendungan tersebut tidak hanya berfungsi untuk menyediakan air bersih kepada warga Jakarta, namun juga tutut berkontribusi untuk menyelamatkan Jakarta dari penurunan muka tanah.
BACA JUGA:Sofyan Djalil: 90% Tanah di IKN Nusantara Milik Pemerintah
"Hanya dengan itu Jakarta selamat dari penurunan muka tanah, jadi ini bagian dari menyelamatkan Jakarta" jelasnya,
Adapun area pembangunan IPA (Instalasi Pengelolaan Air) Wika Tirta Jaya Jatiluhur (WTJJ) akan dibangun di 2 lokasi, IPA Bekasi yang memiliki luas Rra sebesar 3,2 Ha dan mampu memproduksi air sebesar 4400 L/s dan IPA Cibeet Karawang yang memiliki luas area sebesar 1,1 Ha dan mampu memproduksi air 330 L/s.
(Zuhirna Wulan Dilla)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.