Adhi melanjutkan dengan memanfaatkan panas buang pembangkit, maka akan meningkatkan efisiensi, karena panas yang terbuang bisa mencemari lingkungan. Maka, panas buang tersebut bisa diolah dengan chiller untuk menghasilkan udara dingin.
"Misalnya, gas engine dari sebuah pabrik. Gas engine itu menghasilkan listrik mandiri, selain PT PLN. Dari situ pasti ada gas buangnya yang lebih dari 300 derajat. Itu bisa digunakan untuk energi chiller. Maka, bisa disebut juga dengan absorption chiller atau menyerap panas dari sebuah pembangkit," jelas Adhi.
Selain itu air panas (90-180 °C) dan uap (0-10 bar) dari sebuah pabrik juga dapat digunakan sebagai energi alat pendingin. Dari beberapa sumber energi tersebut dapat menghasilkan banyak output yaitu pendingin (cooling), pemanas (heating), dan air panas.
"Dari satu alat kita bisa menghasilkan tiga output yaitu cooling, heating, dan hot water. Khusus heating tidak dihidupkan di Indonesia, karena khusus untuk negara empat musim. Hot water biasanya digunakan dengan simultan ketika di hotel. Satu alat (chiller) bisa menghasilkan udara dingin untuk ruangan dan hot water untuk shower. Jadi, tidak perlu pakai boiler lagi," papar Adhi.
Chiller ini juga lebih aman, karena bersifat vacuum dan bukan tekanan, sehingga kemungkinan terjadi ledakan sangat rendah.
Terakhir, tambah Adhi, chiller ini telah lulus uji ketahanan gempa sampai skala 9 SR. "Ketika ada gempa, solution yang ada di dalamnya tetap stabil dan tetap bisa berfungsi dengan baik," katanya.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.