Share

Seleksi Jadi Bos OJK, Doddy Zulverdi Soroti Ketimpangan Sektor Keuangan RI

Michelle Natalia, Jurnalis · Kamis 07 April 2022 14:24 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 07 320 2574923 seleksi-jadi-bos-ojk-doddy-zulverdi-soroti-ketimpangan-sektor-keuangan-ri-aww5j065rH.JPG Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (Foto: Okezone)

JAKARTA - Calon Kepala Eksekutif Pengawasan Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Doddy Zulverdi tengah menjalani uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) di hadapan Komisi XI DPR RI siang ini, Kamis (7/4/2022).

Dalam paparannya, dia mengatakan sektor keuangan Indonesia masih timpang dan tingkat kedalaman pasar keuangan dangkal.

"Sehingga, ini rentan terhadap shock, baik eksternal dan domestik, dan menyebabkan fungsi intermediasi tidak berjalan optimal," ujar Doddy.

 BACA JUGA:Uji Kelayakan DK OJK, Inarno Dicecar soal Goreng Saham hingga Influencer

Dia menjelaskan dominasi perbankan yang masih tinggi dibandingkan sektor keuangan non-bank menyebabkan kebutuhan pembiayaan investasi jangka panjang sangat bergantung pada utang luar negeri dan pasar modal internasional.

Terlebih, tingkat kedalaman pasar uang yang masih dangkal menyebabkan penciptaan uang atau kekayaan menjadi tidak optimal dan tidak merata, serta lebih banyak mengalir ke sektor properti dan pasar valas, dan sebagian bahkan pergi ke luar negeri.

"Sektor keuangan harus didorong untuk lebih optimal dalam mengalirkan modal dan uang ke sektor riil, bukan hanya berputar-putar di sektor keuangan yang akan menimbulkan gelembung dan kemudian meningkatkan kerentanan ekonomi domestik terhadap krisis," cetusnya.

Dia juga menyebutkan bahwa fungsi intermediasi di sektor keuangan yang tidak optimal menyebabkan transmisi kebijakan moneter dan efek multiplier dari stimulus fiskal tidak berjalan lancar.

"Dari sisi moneter, transmisi kebijakan moneter melalui jalur likuiditas lebih banyak tertahan di perbankan, tidak mengalir sepenuhnya ke sektor riil, sedangkan transmisi kebijakan moneter melalui jalur suku bunga cenderung tertahan di pasar uang sehingga struktur suku bunga di pasar keuangan tidak terbentuk secara normal," ungkapnya.

Dia menambahkan tingkat efisiensi di sektor keuangan Indonesia masih rendah, antara lain tercermin pada selisih antara suku bunga dana dan suku bunga pinjaman yang masih terlalu lebar dan biaya operasional tinggi.

Hal ini menyebabkan pembiayaan bagi sektor riil relatif mahal.

 BACA JUGA:Mahendra Siregar Jalani Fit and Proper Test Calon DK OJK, Ini Targetnya

"Kondisi ini semakin menghambat berjalannya fungsi intermediasi dan mengurangi daya saing sektor keuangan dan sektor riil Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain. Lebarnya selisih antara suku bunga dana dan pinjaman di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh tingginya beban operasional di sektor keuangan dan besarnya marjin keuntungan yang dituntut oleh lembaga keuangan," jelasnya.

"Terkait tren digitalisasi, hanya sebagian kecil lembaga keuangan, baik bank maupun non-bank yang telah melakukan adaptasi terhadap kecenderungan ini sehingga banyak di antara mereka yang belum siap bersaing dengan fintech dan pinjol. Dan terkait pembiayaan hijau, lembaga keuangan dan pasar keuangan di Indonesia belum memiliki infrastruktur dan instrumen yang memadai," tambahnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini