Share

SAH! Astra Bagikan Dividen Rp9,67 Triliun pada RUPST 2022

Agustina Wulandari , Jurnalis · Jum'at 22 April 2022 20:59 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 22 11 2583773 sah-astra-bagikan-dividen-rp9-67-triliun-pada-rupst-2022-mawP8JTfWS.jpg PT Astra Internastional Tbk menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan 2022, pada Rabu (20/04/2022)/ Foto: Okezone

JAKARTA - PT Astra International Tbk (Astra atau Perseroan) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan 2022 (Rapat atau RUPST) pada hari ini, Rabu (20/4/2022). Dalam rapat tersebut ada empat mata acara yang telah diputuskan.

Mata acara pertama menyetujui dan menerima baik Laporan Tahunan untuk tahun buku 2021, termasuk mengesahkan Laporan Tugas Pengawasan Dewan Komisaris Perseroan. Selain itu juga mengesahkan Laporan Keuangan Konsolidasian Perseroan dan Entitas Anak untuk tahun buku 2021 yang telah diaudit.

Mata acara kedua menyetujui penggunaan laba bersih konsolidasian Perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2021 sebesar Rp20,1 triliun sebagai berikut, sebesar Rp239 atau Rp9,67 triliun 460 setiap saham dibagikan sebagai dividen tunai, termasuk di dalamnya dividen interim sebesar Rp45 setiap saham atau seluruhnya berjumlah Rp1,8 triliun yang telah dibayarkan pada 29 Oktober 2021.

Sisanya sebesar Rp194 setiap saham atau seluruhnya berjumlah Rp7,8 triliun akan dibayarkan pada 20 Mei 2022 kepada Pemegang Saham Perseroan yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham Perseroan pada tanggal 10 Mei 2022 pukul 16.00 WIB.

Pada mata acara kedua juga disampaikan bahwa adanya pemberikan wewenang kepada Direksi Perseroan untuk melaksanakan pembagian dividen tersebut dan untuk melakukan semua tindakan yang diperlukan. Pembayaran dividen akan dilakukan dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan pajak, Bursa Efek Indonesia dan ketentuan pasar modal lainnya yang berlaku. Terakhir, sisanya sebesar Rp10,5 triliun dibukukan sebagai laba ditahan Perseroan.

Selanjutnya, pada mata acara ketiga disebutkan mengenai pengangkatan beberapa anggota baru direksi, di antaranya Bapak Hamdani Dzulkarnaen Salim sebagai Direktur, Bapak John Raymond Witt sebagai Komisaris, dan Bapak Stephen Patrick Gore sebagai Komisaris.

Selain adanya penambahan jajaran direksi, mata acara ketiga juga menjelaskan mengenai pemberian wewenang kepada Dewan Komisaris Perseroan untuk menetapkan gaji dan tunjangan anggota Direksi Perseroan dengan memperhatikan kebijakan Komite Nominasi dan Remunerasi Perseroan.

Terakhir, RUPST menetapkan total honorarium untuk seluruh anggota Dewan Komisaris Perseroan maksimum sejumlah Rp1,85 miliar gross per bulan, mulai berlaku terhitung sejak 1 Mei 2022 hingga penutupan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan 2023, serta memberikan wewenang kepada Presiden Komisaris untuk menetapkan pembagian jumlah honorarium tersebut di antara para anggota Dewan Komisaris Perseroan, dengan memperhatikan pendapat dari Komite Nominasi dan Remunerasi Perseroan.

Pada mata acara keempat, menunjuk kantor akuntan publik Tanudiredja, Wibisana, Rintis & Rekan, anggota jaringan firma PricewaterhouseCoopers, yang merupakan kantor akuntan publik yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan untuk melakukan audit Laporan Keuangan Perseroan tahun buku 2022 dan memberikan wewenang kepada Direksi Perseroan untuk menetapkan jumlah honorarium dan persyaratan lainnya sehubungan dengan penunjukan kantor akuntan publik tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

 

Dalam RUPST ini, Presiden Direktur Astra Djony Bunarto Tjondro juga mengungkapkan peluang bisnis baru yang dibidik Astra pada 2022 ini. Ia menuturkan, investasi Astra cukup panjang, yaitu tidak hanya untuk setahun karena prosesnya sangat tergantung pada lapangan, jadi kita mengambil 3-5 tahun.

“Secara prinsipil, Astra selalu terbuka kepada setiap peluang yang sesuai dengan hasil analisa kita. Ada beberapa prinsip yang kita pegang di antaranya, sesuai dengan long term values Astra, apakah Astra bisa berkontribusi terhadap bisnis baru tersebut, dan bagaimana dengan kultur yang ada di perusahaan yang kita ingin investasi,” ujarnya.

Selain itu, Djony juga menjelaskan peluang bisnis Astra di beberapa sektor, yakni sektor digital dan teknologi, jasa keuangan, kesehatan, ,mobility dan logistic, energi terbarukan, dan mining non batubara.

Kalau kita di sektor dan subsector, ada beberapa tentunya di sektor digital dan teknologi, jasa keuangan, sektor Kesehatan, sektor yang berkaitan dengan mobility, termasuk di dalamnya logistic, energi terbarukan, mining di sektor non batubara.

“Ada beberapa prospek tahun 2022 sudah ada dan sedang dikaji, semoga ini bisa terealisasi prospek tersebut. Peluang juga masih banyak di lini bisnis yang ada saat ini, karena kita memberdayakan kolaborasi di unit bisnis astra,” ucapnya.

Terkait dengan ekspansi dan investasi Astra serta belanja modal, Djony membeberkan pada 2019 ada belanja modal sekitar Rp21 triliun, sementara 2020 hanya Rp8 triliun karena pandemi Covid-19, kemudian pada 2021 naik menjadi Rp9,2 triliun, dan 2022 ini rencananya berkisar Rp18 sampai Rp20 triliun.

“Jadi boleh dikatakan sebenarnya belanja modal kami sudah hampir menyamai level sebelum pandemic,” ucapnya.

Ia menambahkan, sejalan dengan geliat bisnis, jika kondisi mobilitas ini sudah cukup baik dan kalau misalnya pandemi sudah terkendali dan kemudian menjadi endemi, tentu pihaknya optimis bahwa perekonomian Indonesia akan memberikan suatu impact yang baik sekali bagi Astra.

Menutup rangkaian rapat, Djony mengucapkan terima kasih kepada seluruh stakeholders atas dukungan penuh yang telah diberikan selama ini. Dengan posisi keuangan yang kuat, group akan terus fokus mencari peluang bisnis baru untuk mencapai pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan.

CM

(Wid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini