Share

Harga Tembaga LME Turun Hari Ini, Terbebani Dolar dan Suku Bunga

Dinar Fitra Maghiszha, Jurnalis · Jum'at 06 Mei 2022 14:16 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 06 320 2589977 harga-tembaga-lme-turun-hari-ini-terbebani-dolar-dan-suku-bunga-41EWW3pC9G.JPG Tembaga. (Foto: Reuters)

JAKARTA - Harga tembaga dunia mengalami penurunan pada perdagangan Jumat (6/5/2022). Patokan tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME) turun -0,4% di USD9.455,50 per ton sejak pukul 9 pagi tadi, dan sempat menyentuh level terendah 4 bulan terakhir pada Rabu kemarin (4/5/2022).

Sementara harga tembaga berjangka kontrak Juni di Shanghai Futures Exchange tertekan -1,3% di CNY72.100.

Sentimen yang mempengaruhi komoditas tembaga adalah kenaikan dolar Amerika Serikat yang menembus level tertinggi 20 tahun terakhir.

 BACA JUGA:Harta Karun RI Numpuk di NTB, Ada Emas hingga Tembaga

Nilai dolar yang lebih kuat membuat harga logam menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan valuta asing tersebut.

Sayangnya, penurunya harga hari ini terjadi berkat kekhawatiran pasar terhadap laju suku bunga di AS, yang membuat aset berisiko seperti pasar komoditas menjadi terancam.

Terlebih, kinerja dolar bakal semakin terdongkrak menjelang laporan pekerjaan AS yang membuat Federal Reserve bakal tetap mempertahankan sikap hawkish mereka setelah menaikkan setengah persen suku bunga beberapa waktu terakhir, dilansir Reuters.

Jerman dikabarkan mengalami penurunan pesanan tembaga dari luar negeri pada Maret 2022. Ini terjadi menyusul krisis geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang mengancam permintaan.

Penurunan aktivitas produksi di China akibat lockdown membebani demand pasar tembaga. Diketahui, negeri tirai bambu merupakan konsumen utama dan terbesar logam dunia.

 BACA JUGA:Jokowi Lanjutkan Stop Ekspor Bauksit, Tembaga hingga Timah

“Permintaan di China telah melambat, properti dan otomotif adalah perhatian utama,” kata analis di Bank of America.

Mereka memperkirakan harga tembaga 2022 bisa mencapai USD9,999 per ton.

Dari sisi persediaan, Goldman Sachs memperkirakan komoditas tersebut akan mengalami defisit sebanyak 375 ribu ton pada tahun ini, yang merupakan dua kali lipat dari perkiraan lalu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini