Share

Jokowi Ajak Elon Musk Investasi, RI Siap Transformasi Energi Fosil ke Terbarukan

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Selasa 17 Mei 2022 08:45 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 17 320 2595201 jokowi-ajak-elon-musk-investasi-ri-siap-transformasi-energi-fosil-ke-terbarukan-jsdvwMgpyX.JPG Jokowi bertemu Elon Musk di Space X. (Foto: Antara)

JAKARTA - Kabar soal CEO Tesla Elon Musk akan berinvestasi ke Indonesia tentu menjadi perbincangan.

Kabar ini juga dianggap angin segar untuk pertumbungan ekonomi Indonesia

Namun, pemerintah Indonesia disebut memiliki pekerjaan rumah 'cukup berat' untuk bisa menggandeng Elon Musk.

Apalagi disebut kalau Elon Musk diminta kerja sama untuk pemanfaatan nikel sebagai salah satu komponen pembuatan baterai kendaraan listrik.

Menurut Ekonom dari Center of Reform in Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet mengatakan Tesla mempunyai standar tinggi terkait pengelolaan lingkungan keberlanjutan, sosial, dan peraturan yang mesti dipenuhi.

 BACA JUGA:Jokowi Ajak Elon Musk Investasi di RI, Bidang Apa Saja?

Lalu, LSM lingkungan Walhi menyatakan keberatan jika Tesla berinvestasi di Indonesia lantaran tata kelola pertambangan nikel di dalam negeri sangat buruk.

Hal ini karena dari hampir 7.000 hektare lahan tambang nikel yang beroperasi telah memicu berbagai dampak ekologis.

Bahkan, anggota DPR dari partai pendukung pemerintah, Faisol Riza, berharap investasi Indonesia dengan bos Tesla itu bisa tercapai demi membuka lapangan pekerjaan baru.

Diketahui, kalau pemerintah memang sudah mengincar Tesla agar berinvestasi di Indonesia pada pengembangan baterai untuk kendaraan listrik sudah dimulai sejak tahun lalu.

Akhirnya, Menteri Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dengan Elon Musk pada 26 April silam kemudian disusul kunjungan Presiden Joko Widodo ke pabrik roket Space X, Sabtu (14/5/2022).

Ini memperlihatkan ambisi besar Jokowi mengembangkan industri kendaraan listrik di dalam negeri. Mulai dari memproduksi komponen baterai dan merakit kendaraan listrik.

"Kerja sama investasi dengan Tesla sangat menguntungkan. Kalau Indonesia terlibat dari rantai pasok pembuatan perakitan mobil listrik Tesla, ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk kembali mendorong industrialisasi," ujar Yusuf Rendy kepada Quin Pasaribu yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Minggu (15/5/2022).

"Pintu untuk produk-produk yang dihasilkan Indonesia bisa terbuka lagi. Misalnya dari menjual baterai ke Tesla kemudian bisa menembus pasar negara-negara Eropa," tambahnya.

Rendy pun menambahkan lagi jika Indonesia hanya sebagai negara pemasok bahan baku pembuatan baterai mobil listrik ke China.

 BACA JUGA:Gaya Elon Musk Bertemu Presiden Jokowi Disorot, Netizen Sebut RI 1 Harusnya Pakai Kaos Dagadu

Tentu ini bukan perkara mudah untuk menarik Tesla atau perusahaan sejenis berinvestasi di dalam negeri.

Ada ada tiga hal yang menjadi perhatian penting untuk bisa meloloskan kerja sama itu, mulai dari aspek lingkungan, sosial, dan pemerintahan atau disebut ESG.

Adapun untuk lingkungan hampir semua produsen mobil listrik mengedepankan negara-negara yang menggunakan energi berkelanjutan atau ramah lingkungan.

"Untuk sosial, investor melihat apakah selama ini pertambangan yang beroperasi di suatu negara memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat atau malah berdampak negatif seperti menelan korban," jelasnya.

Diprediksi bahwa para investor biasanya merujuk pada aturan yang dikeluarkan pemerintah setempat apakah mendukung industrialisasi atau tidak.

Dia menyebut itu karena Indonesia hanya memenuhi satu syarat saja yaitu kebijakan. Mengenai lingkungan dan sosial masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi.

"Indonesia sudah ada semacam langkah untuk melakukan transformasi dari bagaimana mengganti energi fosil ke energi berkelanjutan. Tapi sampai sekarang penggunaan bahan bakar fosil masih besar. Ini yang bisa memberatkan investor seperti Tesla dan sejenisnya. Kemudian pertambangan seperti batu bara kita tahu ada yang ilegal dan di saat bersamaan ada yang menelan korban ketika tidak dikelola dengan baik. Ini lagi yang memberatkan kalau bicara konteks sosial," urainya.

"Jadi lingkungan dan sosial yang menjadi PR setelah Jokowi pulang kalau seandainya ingin menindaklanjuti pertemuan dengan Elon Musk," tambahnya lagi.

Dia memperkirakan untuk mencapai semua kriteria itu dibutuhkan waktu lima sampai sepuluh tahun.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini