Share

Banggar: Pemerintah Ajukan Revisi APBN dari Rp2.714 Triliun Jadi Rp3.106 Triliun

Michelle Natalia, Jurnalis · Kamis 19 Mei 2022 14:06 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 19 320 2596724 banggar-pemerintah-ajukan-revisi-apbn-dari-rp2-714-triliun-jadi-rp3-106-triliun-P7r5BYe9YP.jpg Pemerintah ajukan revisi APBN. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang masih berlangsung berdampak pada lonjakan harga komoditas khususnya energi dan pangan.

Harga minyak mentah yang melonjak kemudian mendorong pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati untuk mengajukan revisi postur APBN 2022 kepada Badan Anggaran (Banggar) DPR RI.

 BACA JUGA:Presiden Ukraina Ejek Senjata Laser Rusia yang Digunakan di Perang

Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah menyampaikan bahwa harga Indonesia Crude Price(ICP) yang diajukan pemerintah adalah di kisaran USD95-105 per barel dari asumsi semula dalam APBN sebesar USD63 per barrel.

Revisi postur ini berdasarkan ketentuan ayat 1 pasal 22 UU 6/2022 tentang APBN Tahun 2022. Disebutkan bahwa dalam keadaan darurat, pemerintah dapat melakukan langkah antisipasi dengan persetujuan DPR.

"Pemerintah mengajukan revisi APBN dari Rp2.714 triliun menjadi Rp3.106 triliun atau naik Rp391,8 triliun," ujar Said dalam rapat kerja Banggar DPR RI dengan Menkeu Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Kamis(19/5/2022),

Penambahan ini karena adanya tambahan belanja, khususnya untuk subsidi energi.

Pemerintah mengalokasikan untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM), LPG dan listrik sebesar Rp74,9 triliun.

Said mengatakan, juga terdapat kebutuhan menambah biaya kompensasi BBM sebesar Rp234 triliun serta kompensasi listrik Rp41 triliun

"Pemerintah juga menambah anggaran untuk sisi perlindungan sosial sekitar Rp18,6 triliun dan dana bagi hasil (DBH) sebesar Rp47,2 triliun. Sementara itu, pengurangan dilakukan pada postur dana alokasi khusus (DAK) sebesar Rp12 triliun," lanjutnya.

Kemudian, cadangan belanja pendidikan pun mengalami peningkatan sekitar Rp23,9 triliun.

Penambahan ini juga diperkirakan dapat menyerap penggunaan saldo anggaran lebih (SAL) sekitar Rp50 triliun.

 BACA JUGA:Ratusan Tentara Ukraina di Mariupol Menyerah Kepada Rusia

"Penambahan pos anggaran belanja dapat kita penuhi dengan perkiraan pendapatan negara bertambah. Pemerintah memproyeksikan kenaikan pendapatan negara menjadi Rp2.266 triliun dari perencanaan semula pada APBN 2022 sebesar Rp1.846 triliun," ucapnya.

Selain itu, defisit anggaran diperkirakan lebih rendah dari target awal 4,85% dari PDB menjadi 4,3-4,5% dari PDB.

"Ini akan memudahkan pemerintah softlanding ke posisi di bawah 3% PDB tahun depan," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini