Share

Gagal Ekspor, 3 Pabrik CPO Bangkrut

Demon Fajri, Jurnalis · Kamis 02 Juni 2022 13:58 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 02 320 2604286 gagal-ekspor-3-pabrik-cpo-bangkrut-gjVtQBlcP7.jpg 3 Pabrik CPO Berhenti Beroperasi. (Foto: Okezone.com)

BENGKULU - Tiga dari 14 pabrik Crude Palm Oli (CPO) di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, berhenti beroperasi sejak akhir April 2022. Tutupnya pabrik tersebut karena tangki penampungan perusahaan penuh, sehingga menolak menerima atau membeli Tandan Buah Segar (TBS) milik petani warga setempat.

Penuhnya tangki CPO tiga perusahaan disebabkan belum ada adanya ekspor yang disalurkan melalui jalur laut di Teluk Bayur, Sumatera Barat.

Tiga pabrik tutup tersebut tersebar di tiga Kecamatan di Kabupaten Mukomuko. Yakni, PT Gajah Sakti Sawit, di Kecamatan Pondok Suguh, PT. Sapta Sentosa Jaya Abadi, di Kecamatan Lubuk Pinang, dan di PT. Sentosa Sejahtera Sejati (SSS), di Kecamatan Penarik.

Baca Juga: CPO Turun 1,61% Hari Ini, Cek Daftar Harganya

Kepala Dinas Pertanian, Kabupaten Mukomuko, Apriansyah mengatakan, dari 14 pabrik ada 3 pabrik tutup beroperasi sejak akhir April 2022.

Untuk kapasitas pabrik CPO, PT Gajah Sakti Sawit, di Kecamatan Pondok Suguh, kata Apriansyah, bisa menampung atau kapasitas daya tampung 700 ton CPO, dengan 1 tangki.

Sementara, pabrik CPO, PT. Sapta Sentosa Jaya Abadi, di Kecamatan Lubuk Pinang, memiliki kapasitas daya tampung CPO 4000 ton dengan memiliki 2 tangki.

Baca Juga: Luhut Minta Perusahaan Sawit Ngantor di Indonesia, Ternyata Ini Tujuannya

Kemudian, pabrik CPO, PT. Sentosa Sejahtera Sejati (SSS), di Kecamatan Penarik, memiliki kapasitas daya tampung 1.500 ton CPO.

"Daya tampung tangki 3 perusahaan terbatas. Sehingga mereka sudah tidak bisa lagi menerima tandan buah segar milik petani. Tiga pabrik CPO itu tutup beroperasi sejak akhir April 2022," kata Apriansyah, saat ditemui, Kamis (2/6/2022).

Tiga pabrik yang tutup, lanjut Apriansyah, sudah dilakukan pengecekan terhadap tangki milik pabrik. Di mana tangki penampungan CPO milik tiga pabrik tersebut sudah penuh dan tidak Baia lagi menampung CPO.

"Sudah kita cek ke lapangan. Memang benar, tangki penampungan CPO sudah penuh, makanya mereka tutup beroperasi menerima TBS dari petani atau masyarakat," jelas Apriansyah.

Untuk penetapan harga TBS, lanjut Apriansyah, di Kabupaten Mukomuko, harga terendah TBS Rp2.600 per kilo, dan harga tertinggi Rp28.000 per kilo.

Namun, sampai Apriansyah, harga TBS setiap pabrik tidak bisa dipukul rata. Di mana setiap pabrik berbeda-beda menerima harga TBS.

Di lapangan, kata Apriansyah, harga TBS tertinggi seharga Rp18.000 per kilo, dan harga terendah Rp1.600 per kilo.

"Setiap pabrik harga TBS yang dibeli berbeda-beda. Sebab mereka juga memiliki kebun, makanya harga TBS setiap pabrik itu berbeda-beda di Mukomuko," pungkas Apriansyah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini