Share

Menilik Rencana IPO BUMN, Begini Penjelasan Wamen Pahala

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Senin 20 Juni 2022 12:07 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 20 278 2614632 menilik-rencana-ipo-bumn-begini-penjelasan-wamen-pahala-tq1U2aE0lP.jpg Rencana IPO BUMN dan Anak Usahanya. (Foto: Okezone.com/IDX Channel)

JAKARTA - Sejumlah BUMN dan anak usahanya ditargetkan mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2022. Langkah Initial Public Offering (IPO) ini disampaikan Wakil Menteri BUMN I Pahala Nugraha Mansury.

Pahala mencatat, perusahaan yang akan melantai di pasar modal Indonesia adalah anak usaha PT Pertamina (Persero). Hanya saja dia enggan merinci hal ini. Tercatat, Pertamina International Shipping (PIS) dan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) akan melantai ke BEI.

Baca Juga: OJK Ingatkan Emiten BUMN Ikuti Aturan di Pasar Modal

"Target kita tahun ini paling tidak (anak usaha) Pertamina ada beberapa," ungkap Pahala saat ditemui wartawan di sela-sela Penandatanganan Head of Agreement (HoA) antara Pertamina NRE dan Perhutani, Senin (20/6/2022).

Selain di sektor energi, BUMN di sektor perkebunan pun berpotensi melakukan go publik. Di sektor ini, manajemen Holding Perkebunan Nusantara atau PTPN III (Persero) telah mengkonfirmasi akan mencatatkan sahamnya di pasar modal pada tahun ini.

Baca Juga: ASDP IPO Bidik Rp3,2 Triliun, Erick Thohir Ganti Kapal Tua

Terkait rencana tersebut, perseroan pun akan membentuk sub holding yang disebut dengan Palm Co. Bisnis perusahaan yang dicatatkan sahamnya di pasar modal Tanah Air adalah seluruh bisnis kelapa sawit dan karet. Aksi korporasi itu untuk mendapatkan value creation tertinggi yang berasal dari konversi karet ke kelapa sawit.

"Lalu kita lihat ada potensi juga di anak usaha (BUMN) perkebunan. Insya Allah ada. Nanti kita sebutkan kalau sudah registrasi," tutur Pahala.

Kementerian BUMN, kata Pahala, masih melakukan kajian dan memantau perkembangan market pasca keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), the Fed, yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin (bps) atau 0,75 persen. Pahala mengaku optimistis terkait hal ini.

"Insya Allah masih akan ada yang terealisasi. Kita lagi monitor apakah market sudah mem-price in atau mempertimbangkan kenaikan tingkat bunga yang ada di AS," ungkap Pahala.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini