Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Daftar Harga Pertalite dan Solar Jika Tanpa Subsidi, Segini Besarannya

Feby Novalius , Jurnalis-Jum'at, 08 Juli 2022 |03:20 WIB
Daftar Harga Pertalite dan Solar Jika Tanpa Subsidi, Segini Besarannya
Harga Pertalite Tidak Naik. (Foto: Okezone.com/Pertamina)
A
A
A

JAKARTA - Presiden Joko Widodo mengungkapkan bahwa harga Pertalite dan Solar masih bisa bertahan karena adanya subsidi. Jika tidak tentu harga keekonomianya tidak mungkin seperti saat ini, Pertalite Rp7.650 dan Solar Rp5.150 per liter.

PT Pertamina mencatat seharusnya harga keekonomian Pertalite Rp17.200 per liter, bukan Rp7.650. Untuk Solar yang dijual Pertamina sebesar Rp5.150 per liter, harga keekonomian berada di level Rp18.150 per liter. Artinya, selisih yang harus ditanggung pemerintah dalam bentuk subsidi mencapai Rp13.000 per liter.

Presiden Joko Widodo meminta semua pihak termasuk masyarakat untuk tidak puas karena pemerintah berhasil menahan harga BBM di Indonesia. Sebab, di beberapa negara harga BBM sudah melambung tinggi.

Baca Juga: Duh! Harga Pertalite Seharusnya Rp17.200 Bukan Rp7.650/Liter

Jokowi mengatakan bahwa terjadi kenaikan di berbagai sektor khususnya minyak akibat pandemi dan konflik Rusia-Ukraina.

"Minyak saat normal dulu sebelum pandemi harganya 60 dolar sekarang ini 110 - 120 dolar per barel sudah dua kali lipat hati-hati," ujar Jokowi dalam sambutannya yang disiarkan YouTube Sekretariat Presiden.

Jokowi pun mengungkapkan bahwa saat ini pemerintah masih bisa menahan harga BBM khusus pertalite. Namun, Jokowi meminta semua pihak tidak merasa puas.

Baca Juga: Viral Lowongan Buzzer Naikkan Rating MyPertamina, Begini Respon Pertamina

"Negara kita ini kita masih tahan untuk tidak menaikan yang namanya pertalite. Negara lain yang hanya BBM, bensin itu sudah berada di angka 31 ribu, Jerman Singapura sudah 31 ribu, Thailand sudah 20 ribu kita masih 7.650 karena apa? disubsidi oleh APBN," kata Jokowi disambut tepuk tangan.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan tingginya harga minyak dunia hingga USD100 per barel membuat perseroan dilema. Pasalnya hingga kini pemerintah masih menahan harga BBM khususnya Pertamax.

"Selain dari minyak kita bisa lihat harga elpiji dalam hal ini gas juga mengalami kenaikan yang luar biasa sehingga Alhamdulillah pemerintah juga melihat seperti ini dan kebijakan untuk menahan harga supaya membantu daya beli masyarakat dan juga menahan inflasi," ungkapnya.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement