Share

Waspadai Perang Rusia-Ukraina, Jokowi: Ini Pengaruhi Harga Pangan dan Energi

Wahyudi Aulia Siregar, Okezone · Kamis 07 Juli 2022 14:08 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 07 320 2625341 waspadai-perang-rusia-ukraina-jokowi-ini-pengaruhi-harga-pangan-dan-energi-KrgcGRFlFe.jpg Presiden Jokowi (Foto: Biro Pers Setpres)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa kondisi perang di Ukraina, penting diwaspadai karena menyangkut pangan dan energi. Perang tersebut juga telah mempengaruhi kondisi di semua negara di dunia.

Perang di Ukraina telah mendorong peningkatan harga minyak dunia hingga dua kali lipat menjadi 120 dolar per barel. Dampaknya harga jual BBM pun terpaksa dinaikkan.

"Hati-hati. Negara kita masih tahan untuk tidak menaikkan harga bensin. Negara lain, untuk bensin sudah berada di harga 31 ribu. Jerman dan Singapura 31 ribu. Thailand sudah 20.000. Kita masih Rp7.650 per liter karena masih disubsidi oleh APBN," ujar dia, Kamis (7/7/2022).

"Ini kita berdoa supaya APBN tetap masih kuat memberi subsidi. Kalau sudah tidak kuat mau gimana lagi," tambahnya.

Presiden menyebut, saat ini Indonesia mengimpor separuh dari kebutuhan nasional yang mencapai 1,5 juta barel. Dengan kenaikan harga minyak dunia, berarti pemerintah juga harus membayar lebih ke negara pengekspor.

"Begitu juga dengan gas juga, harga internasional sudah naik 5 kali. Padahal kita juga impor gas gede banget," pungkasnya.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Soal pangan, kata Jokowi, juga sama naik di seluruh dunia. Ada yang naiknya sudah 30 persen ada yang sudah 50 persen. Indonesia sendiri masih diuntungkan, karena rakyat, utamanya petani masih berproduksi. Dan sampai saat ini beras sebagai komoditi pangan utama harganya tidak naik dan stoknya selalu ada.

"Sudah tiga tahun kita tidak impor beras lagi. Biasanya kita impor 1,5 juta sampai 2 juta ton per tahun. Ini sudah tidak impor lagi," ucapnya.

Namun Jokowi mengkhawatirkan harga gandum yang terus naik. Indonesia sendiri saat ini mengimpor sebanyak 11 juta ton gandum. Persoalan stok gandum ini menjadi perhatian khusus Jokowi saat berkunjung ke Ukraina dan Rusia beberapa waktu lalu.

Perang di Ukraina, jelas Jokowi, mempengaruhi harga gandum karena 30-40 persen produksi gandum dunia berasal dari Ukraina, Rusia dan Belarusia.

"Stok di Ukraina 77 juta ton di Rusia 130 juta ton. Bayangkan berapa ratus juta orang ketergantungan kepada gandum Ukraina dan Rusia. Dan sekarang ini sudah mulai karena barang itu tidak bisa keluar dari Ukraina, nggak bisa keluar dari Rusia," paparnya.

"Akibat keterbatasan stok, di Afrika dan beberapa negara di Asia sudah mulai yang namanya kekurangan pangan akut. Sudah mulai yang namanya kelaparan. Jadi kita harus hati-hati. Kita harus menjaga kemandirian pangan kita," sebutnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini