JAKARTA - Kabar Sri Lanka mengalami krisis telah menjadi sorotan di berbagai dunia.
Dikutip BBC, negara tersebut kini kacau karena telah kekurangan banyak pasokan makanan hingga energi.
Adapun Sri Lanka sedang merestrukturisasi utang lebih dari USD50 miliar atau setara Rp748 triliun. (Kurs:14.972).
Di mana utang itu harus dibayar kepada kreditur asing, agar lebih mudah dikelola untuk membayar kembali.
BACA JUGA:Sri Lanka Bangkrut, Listrik Padam hingga Antre BBM Berhari-hari
Diketahui, Sri Lanka pun telah gagal membayar utangnya pertama kali.
Ini merupakan krisis keuangan terburuk selama lebih dari 70 tahun.
Untuk massa tenggang 30 hari untuk menghasilkan USD78 juta pembayaran bunga utang yang belum dibayar berakhir pada pertengahan Mei 2022.
Kemudian, Gubernur bank sentral setempat saat itu mengatakan negara itu sekarang dalam default pre-emptive.
Pada Mei 2022, dua lembaga pemeringkat kredit terbesar di dunia juga mengatakan Sri Lanka telah gagal bayar utang alias default.
Di mana default terjadi ketika pemerintah tidak dapat memenuhi sebagian atau seluruh pembayaran utang mereka kepada kreditur.