JAKARTA - Sri Lanka bangkrut tentu ada pelajara berharga yang bisa diambil Indonesia supaya tidak senasib. Pelajaran pertama, jangan mengantungkan ekonomi terlalu besar pada satu atau dua sektor komoditi, seperti pariwisata contohnya yang terpukul akibat pandemi Covid-19.
"Kita harus terus mendiversifikasi ekonomi, terutama ke sektor-sektor yang memiliki nilai tambah, seperti manufaktur yang bisa menjadi bantalan kalau ada external shock," kata Direktur eksekutif dari lembaga Center of Reform on Economics, CORE Indonesia Mohammad Faisal.
Baca Juga: Ngeri, Begini Kondisi Sri Lanka Bangkrut
Kedua, jangan mengantungkan diri terlalu besar terhadap produk impor, khususnya di sektor pangan dan energi.
"Ketika harga kebutuhan esensial dunia naik maka akan menganggu ketahanan nasional. Sebaliknya, kita harus meningkatkan produksi dalam negeri sehingga ketergantungan dan dampak negatif bisa diminimalisir," ujarnya.
Baca Juga: Indonesia Disebut Perlu Antisipasi dari Kasus Sri Lanka, Bagaimana Caranya?
Dia mengatakan, kemungkinan Indonesia mengalami seperti Sri Lanka masih sangat jauh, jika dilihat dari berbagai indikator.
"Untuk resesi, saya rasa masih jauh, tapi yang mungkin terjadi peningkatan risiko berupa melambat atau tertahannya pertumbuhan ekonomi jika kondisi ini terus terjadi," katanya.
Indikator pertama adalah, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat inflasi di Indonesia 4,35% (yoy) dan 3,19% (Januari-Juni 2022). Angka itu timpang secara drastis dengan inflasi di Sri Lanka yang sudah mencapai 50%, bahkan disebut berpotensi mencapai 80%.
"Kondisi inflasi Indonesia masih sangat moderat dibandingkan Sri Lanka," kata Faisal.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.