Share

BI Tahan Suku Bunga, Apa Dampak ke IHSG dan Rupiah?

Wahyudi Aulia Siregar, Okezone · Kamis 21 Juli 2022 17:45 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 21 320 2633934 bi-tahan-suku-bunga-apa-dampak-ke-ihsg-dan-rupiah-t6VKuqfwZS.jfif BI Tahan Suku Bunga, Apa Dampak pada IHSG? (Foto: Okezone.com/Freepik)

MEDAN - Bank Indonesia (BI) menahan besaran bunga acuan di level 3,5%. IHSG pun terpantau mengurangi pelemahannya, sementara mata uang Rupiah terpantau mengalami pelemahan.

Rupiah diperdagangkan dikisaran Rp15.034 per USD. Sementara IHSG justru hanya ditutup melemah 0,15% di level 6.864,13.

Baca Juga: BI Tahan Suku Bunga di Level 3,5%

Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin mengatakan, kebijakan BI memang pada dasarnya akan membuat pertumbuhan ekonomi terjaga. Namun ada sisi lain yang mengancam, yakni kemungkinan kenaikan bunga acuan The FED yang akan diambil pada pekan depan.

"Ekspektasi tersebut perlu dipelihara, mengingat sangat berpeluang menekan kinerja mata uang Rupiah maupun IHSG," kata Gunawan, Kamis (21/7/2022).

Yang perlu diwaspadai, sebut Gunawan, adalah potensi inflasi akibat pelemahan mata uang Rupiah. Sementara itu, kenaikan harga sejumlah komoditas unggulan tanah air seperti mineral tambang dan minyak nabati memang masih berpeluang menyumbang devisa.

Baca Juga: BI Siapkan 4 Jurus Hadapi Kenaikan Inflasi

"Di mana devisa tersebut yang nantinya bisa diperuntukan untuk menahan laju pelemahan mata uang Rupiah," jelasnya.

Gunawan menyebut pelaku pasar akan lebih berhati hati lagi serta mewaspadai kemungkinan terjadinya tekanan lanjutan. Karena setelah BI mempertahankan besaran bunga acuan, tekanan di pasar keuangan akan berlanjut. Terlebih di pekan depan Bank Sentral AS diperkirakan akan menaikkan besaran bunga acuannya.

"Sejauh ini, saya melihat tekanan di pasar keuangan akan membesar di pekan depan. Meskipun Rupiah yang di Rp15 ribuan per US Dolar menurut hemat saya masih dalam posisi yang aman, namun sentimen pasar ke depan semakin sulit untuk dikendalikan. Terlebih sentimen eksternal yang dipicu oleh kenaikan bunga acuan Bank Sentral AS," pungkasnya.

Di sisi lain, sambung Gunawan, bukan hanya rupiah dan IHSG yang berada di bawah tekanan. Harga emas dunia juga terpantau turun dan diperdagangkan di bawah level psikologis USD1.700 per ons troy-nya. Harga emas saat ini terpuruk di level USD1.685 per ons troy, yang berarti dengan beberapa kemungkinan besar kenaikan bunga acuan Bank Sentral AS, harga emas masih dalam tren turun atau bearish.

"Harga emas saat ini ditransaksikan di kisaran level 817 ribu per gramnya. Dengan ekspektasi beberapa kali lagi kenaikan bunga acuan The FED hingga tahun 2023, maka emas berpotensi untuk terus melemah ke depan. Ini bukan kabar baik bagi investor emas," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini