Share

Fakta China Sita Aset 3 Negara Gegara Tak Bisa Bayar Utang

Shelma Rachmahyanti, MNC Media · Sabtu 30 Juli 2022 03:55 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 29 320 2638884 fakta-china-sita-aset-3-negara-gegara-tak-bisa-bayar-utang-zdwI2t3utM.jpg China sita aset negara yang tak bisa bayar utang (Foto: Reuters)

JAKARTA - China sita aset tiga negara yang tidak mampu membayar utang. Dalam hal ini, China dianggap sengaja memberikan pinjaman ke negara lain. Namun, dengan iming-iming nilai utang yang besar, disisi lain mereka membuat kontrak yang menguntungkannya ketika negara yang berhutang tidak bisa melunasinya tepat waktu.

Maka itu, sebagian dari mereka terpaksa menyerahkan sejumlah asetnya kepada China sebagai ganti atas utang yang belum terbayarkan.

Berikut fakta tiga negara yang asetnya disita China karena tidak mampu membayar utangnya, dirangkum Sabtu (30/7/2022).

1. Tajikistan

Tajikistan dikenal sebagai negara yang cukup bergantung dengan utang China. Sebagai contoh, dalam pembangunan gedung parlemen baru, China memberi sekitar USD120 juta dari total USD250 Juta total estimasi biaya pembangunannya.

Dikutip dari Eurasianet, beban utang China ini membuat Tajikistan membayarnya dalam bentuk aset atau barang.

Sebagai contoh, pada tahun 2016 perusahaan China TBEA mengerjakan proyek pembangkit listrik 400 megawatt di Dushanbe.

Dalam proyek ini, pemerintah Tajikistan hanya menyumbang sekitar USD17,4 juta untuk proyek bernilai USD349 juta. Sisanya sendiri dibayarkan oleh TBEA sendiri.

Untuk melunasi hutang tersebut, Tajikistan memberikan konsesi kepada TBEA untuk mengembangkan tambang emas Kumarg dan Duoba Timur.

Jika tambang tersebut tidak mengandung cukup emas, maka Tajikistan akan memberikan izin pengembangan untuk aset lainnya.

Sebelumnya, pada tahun 2011 Tajikistan juga pernah menyerahkan sekitar 1.100 kilometer persegi tanah atau setara dengan 1 persen wilayah negara tersebut untuk Beijing. Hal ini dilakukan karena mereka belum bisa sepenuhnya membayar besaran utangnya ke China.

2. Montenegro

Montenegro juga pernah berurusan dengan utang China. Dikutip dari NPR, negara ini pernah memiliki proyek pembangunan jalan raya yang membentang dari Port of Bar Montenegro di Laut Adriatik ke Beograd, ibu kota negara tetangga Serbia.

Namun, siapa yang menyangka bahwa proyek ini akan mengantarkan Montenegro dalam pusaran hutang China.

Pada tahun 2014, pemerintah menandatangani kerja sama dengan China Road and Bridge Corporation yang didanai Export-Import Bank of China.

Melihat dari salinan kontrak kerja sama tersebut, ada satu poin yang menunjukan apabila Montenegro tidak bisa membayarkan besaran utang tersebut tepat waktu, maka Export-Import Bank of China berhak untuk menyita tanah di negara tersebut selain milik militer atau tempat diplomatik.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

3. Sri Lanka

Sri Lanka baru saja mengalami kebangkrutan. Jika melihat ke belakang, negara ini memiliki kaitan yang cukup lekat dengan China.

Di era Presiden Mahinda Rajapaksa, Sri Lanka selalu meminta pinjaman dan bantuan kepada sekutunya, yaitu China untuk berbagai proyek ambisusnya. Dikutip dari New York Times, Senin (25/7/2022), Mahinda Rajapaksa pernah memiliki sebuah proyek pelabuhan.

Selama bertahun-tahun proses konstruksinya, proyek tersebut mengalami kegagalan. Dengan puluhan ribu kapal yang melewati jalur pelayaran tersibuk di dunia, pelabuhan Sri Lanka hanya menarik sekitar 34 kapal saja pada 2012. Alhasil, pelabuhan tersebut menjadi milik China.

Mahinda Rajapaksa harus turun dari kekuasaannya pada 2015, namun pemerintahan yang baru harus berjuang untuk membayar hutang negara peninggalannya. Dibawah tekanan China, pemerintah akhirnya menyerahkan pelabuhan dan 15.000 hektar tanah di sekitarnya selama 99 tahun.

Sementara itu, berikut 4 negara yang disebut masuk jebakan utang China yang bikin gigit jari dirangkum Okezone dari berbagai sumber:

1. Uganda

2. Sri Lanka

3. Nigeria

4. Kenya

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini