Share

Kebiasaan Sejak Zaman VOC, Presiden Jokowi Blakblakan Kerugian Ekspor Nikel

Feby Novalius, Jurnalis · Jum'at 05 Agustus 2022 14:36 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 05 320 2642644 kebiasaan-sejak-zaman-voc-presiden-jokowi-blakblakan-kerugian-ekspor-nikel-m86vP2CwTo.jpg Presiden Jokowi (Foto: Biro Pers Setpres)

JAKARTA - Presiden Jokowi mengatakan bahwa Indonesia berbenah dengan menyiapkan hilirisasi dan industrialisasi. Pasalnya, keuntungan hilirisasi lebih besar dibanding hanya ekspor bahan mentah.

"Yang tidak berani dilakukan dalam kurun lama sekali yaitu hilirisai, industrialisasi. Sejak zaman VOC, ekspor bahan mentah memang itu paling enak. Batu bara keruk kirim bahan mentah, nikel keruk kirim bahan mentah. Tembaga Freeport keruk kirim bahan mentah," ujarnya Silaturahmi Nasional PPAD 2022, Jakarta, Jumat (5/8/2022).

Bertahun-tahun, kata Jokowi, Indonesia menikmati hal tersebut tapi lupa pondasi industrialiasi. Menurutnya, industrialisasi memberikan untung yang jauh lebih besar pada negara.

"Saya beri contoh nikel ekspor bertahun-tahun nilainya 2014 itu USD1,1 miliar kira kira Rp15 triliun per tahun. Begitu kita stop 2017, ekspor di 2021 mencapai Rp300 triliun lebih. Dari Rp15 triliun melompat Rp300 triliun dan itu baru satu komoditi," ujarnya.

Meski kebijakan stop nikel RI digugat Uni Eropa ke WTO, Jokowi mengaku siap menghadapi masalah tesebut. Dirinya memastikan bahwa Indonesia tidak lagi mengirim bahan mentah, nikel.

"Saya sampaikan silahkan digugat, akan saya hadapi. Indonesia akan hadapi," tuturnya.

Dia melanjutkan bahwa pemerintah sudah menyampaikan alasan-alasan yang logis kepada WTO terkait stop ekspor nikel. Dirinya meyakini bahwa gugatan tersebut dimenangkan Indonesia.

"Barang-barang kita sendiri, nikel-nikel kita sendiri, kenapa Uni Eropa ramai dan menggugat. Karena industri baja mereka tidak ada memasok bahannya. Industrinya sekarang beralih ke Indonesia," tuturnya.

Manfaat dari hilirisasi pun mulai terasa di mana penerimaan pajak tentu meningkat. Di mana pendapatan dari ekspor nikel dulu hanya Rp15 triliun, sekarang menjadi Rp300 triliun dengan mengolah sindiri di dalam negeri.

"Apa yang kita dapatkan dengan industrialisasi, pertama pajak kepada pemerintah melompat tadi dari Rp15 triliun, pajak berapa. Rp300 triliun dapat berapa. Bisa lipat 20 kali. Lapangan kerja juga ada di Indonesia bukan di Uni Eropa. Inilah hal lama tidak kita pikirkan," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini