Share

Ekonomi RI Tumbuh 5,44%, Sri Mulyani: Subsidi Pemerintah Bikin Inflasi Stabil

Michelle Natalia, Jurnalis · Jum'at 05 Agustus 2022 17:12 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 05 320 2642796 ekonomi-ri-tumbuh-5-44-sri-mulyani-subsidi-pemerintah-bikin-inflasi-stabil-Jg4ewBZuwn.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Ekonomi Indonesia tumbuh 5,44% di kuartal II 2022 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menanggapi kondisi ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa Indonesia berada dalam posisi yang baik dan aman dibandingkan negara-negara lain.

Di mana mereka engah mengalami tekanan dan gejolak saat ini.

 BACA JUGA:Pertumbuban Ekonomi RI Ditargetkan 5,2%, Menko Airlangga Beberkan 6 Strateginya

"We (Indonesia) are in a relatively good position. Growth kita 5,44%, inflasi kita relatif stabil dengan adanya subsidi dari pemerintah. Bukan hanya itu, demand dan supply kita juga tetap terjaga," ujar Sri dalam peluncuran buku 'Keeping Indonesia Safe from Covid-19 Pandemic' secara virtual di Jakarta, Jumat (5/8/2022).

"Pencapaian ini sangat positif, sementara kita melihat inflasi di negara-negara lain sangatlah tinggi. Belum lagi mereka belum seluruhnya pulih dari pandemi dan juga dari sisi supply-nya, sehingga pertumbuhannya tidak terlalu tinggi," tambahnya.

Sri pun menyoroti perkembangan kebijakan moneter dan fiskal Amerika Serikat (AS) dan Eropa yang ekspansif.

Perkembangan tren ekspansif ini menekan negara-negara lain karena memang mendorong pemulihan demand yang besar, tetapi sisi supply masih tertinggal, sehingga terjadi inflasi.

Dalam situasi seperti sekarang, inflasi Indonesia tertahan karena adanya subsidi dan kompensasi dari pemerintah yang menahan kenaikan harga komoditas, khususnya pangan dan energi.

"Kita bisa mendapatkan growth 5,44% ini karena ekspor dan konsumsi yang saling mendukung, supply kita pun responsif, jadinya inflasi Indonesia pun relatif stabil," ucapnya.

Meskipun konsumsi pemerintah terkontraksi dua kuartal berturut-turut, Sri mengatakan bahwa pertumbuhan perekonomian ditopang oleh pertumbuhan positif dari konsumsi rumah tangga dan ekspor.

"Kontraksi konsumsi pemerintah ini bukan karena ukuran defisit anggaran mengecil, tapi kemampuan membelanjakan yang masih terbatas. Maka dari itu kalau kita akan menambah belanja dengan kapasitas to spend and quality spending, kita harus berhati-hati untuk tidak menggunakan fiskal secara sembrono," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini