Share

Beban Subsidi Energi Meningkat, Perindo Usul Pertalite Dihapus Tahun Depan Asal Syarat Utama Dipenuhi

Iqbal Dwi Purnama, Okezone · Minggu 07 Agustus 2022 07:29 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 07 320 2643342 beban-subsidi-energi-meningkat-perindo-usul-pertalite-dihapus-tahun-depan-asal-syarat-utama-dipenuhi-ERwz1BfWn0.jpg BBM Pertalite (Foto: Okezone)

JAKARTA - Subdisi pemerintah untuk sektor energi, khususnya untuk BBM menjadi yang terbesar dalam sejarah pemberian subsidi di tanah air dengan jumlah mencapai Rp500 tirliun.

Ketua DPW Partai Perindo, Yusuf Lakaseng mengatakan pemerintah sudah seharusnya melakukan pengaturan untuk penyaluran BBM Bersubsidi yang jumlahnya terus membengkak seiring kebutuhan yang meningkat setiap tahun.

โ€œTapi harus memenuhi syarat utama pemenuhan masyarakat yang berkaitan dengan BBM, diantaranya layanan transportasi yang memadai sehingga penggunaan BBM bisa teralihkan dari kendaraan pribadi,โ€ ujarnya kepada MPI dihubungi usai diskusi polemik Mnc Trijaya di Jakarta, Sabtu (6/8/2022).

Di sisi lain ketergantungan semua lapisan masyarakat terhadap BBM bisa dilakukan dengan tersedianya energi alternatif yang lebih murah dibanding BBM.

โ€œKalau ini sudah terpenuhi saya kira subsidi BBM bisa dihilangkan. Bukan apa-apa, BBM ini menjadi buah simalakama. Tidak disubsidi bisa berujung inflasi. Disubsidi bisa bikin jebol APBN jadi persyaratan itu harus bisa dipenuhi jika subsidi tidak lagi membebani,โ€ ungkapnya.

Dia menilai mengatasi penyakit jantung, atau masalah Subdisi ini, tidak cukup dengan memasang cincin, atau pemberian subsidi terus menerus kepada masyarakat. Namun harus segera dilakukan operasi atau tindakan yang lebih strategis, untuk menyudahi penyakit subsidi

"Tetapi tahun depan pemerintah sudah harus memulai mempersiapkan psikologis masyarakat, bila perlu pertalite dihapus, karena daripada kepahitannya berulang," kata Yusuf.

Sehingga diharapkan bisa juga sudah mulai memahami harga psikologis untuk BBM. Karena menurut Yusuf Indonesia ini bukan negara yang kaya akan minyak, setiap tahun pemerintahan belanja minyak untuk masyarakat yang ditopang oleh APBN.

"Masyarakat harus bersiap, bahwa Indonesia bukan negara yang kaya minyak kita hanya punya 0,02% dari cadangan minyak dunia," lanjutnya.

Dia menambahkan, kondisi geopolitik bakal terus bergejolak yang bakal mengancam fluktuasi harga pangan maupun energi. Ketika harga Energi naik adanya dampak dari kondisi geopolitik tersebut, maka mau tidak mau APBN harus selalu siap sedia menghadapi kondisinya.

"Dalam jangka panjang tidak bisa ditunda, Kondisi Geopolitik bakal mengganggu ketahanan energi maupun ketahanan pangan kita, maka urusan energi ini harus dipercepat," lanjut Yusuf.

"Sebetulnya gampang saja, kalau harga internasional naik, ya tinggal dinaikn saja harga BBMnya, subsidi maupun non subsidi," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini