Share

4 Fakta Tiket Pesawat Direstui untuk Naik, Berikut Alasan dan Dampaknya

Shelma Rachmahyanti, MNC Media · Minggu 14 Agustus 2022 08:13 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 13 320 2647088 4-fakta-tiket-pesawat-direstui-untuk-naik-berikut-alasan-dan-dampaknya-iHUxfbgRf7.png Harga Tiket Pesawat Direstui untuk Naik. (Foto: Okezone.com/Garuda Indonesia)

JAKARTA – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memberikan izin maskapai untuk menaikkan harga tiket pesawat.

Adapun maskapai diizinkan mengenakan biaya tambahan (surcharge) paling tinggi 15% dari batas atas untuk pesawat jet. Lalu, untuk pesawat udara jenis propeller atau baling-baling paling tinggi 25% dari tarif batas atas.

Berikut fakta tiket pesawat direstui untuk naik yang dirangkum di Jakarta, Minggu (14/8/2022).

1. Respons Garuda Indonesia

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk memberikan tanggapan terkait imbauan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengenai penerapan harga tiket yang lebih terjangkau bagi masyarakat.

Di mana, Garuda Indonesia mengajak seluruh stakeholder penerbangan untuk bersama-sama fokus mengoptimalkan momentum pemulihan industri penerbangan maupun kebangkitan ekonomi nasional.

Baca Juga: Garuda Indonesia Putuskan Tidak Naikkan Harga Tiket Pesawat

Serta terus memperkuat sinergitas dalam memaksimalkan aksesibilitas masyarakat terhadap layanan transportasi udara yang aman dan nyaman.

Garuda Indonesia melihat imbauan ini sebagai pengingat bagi seluruh pelaku industri layanan transportasi udara untuk menyelaraskan langkah akselerasi kinerja dengan tetap menjaga komitmen kepatuhan terhadap aturan bisnis penerbangan termasuk mengenai penerapan komponen harga tiket mengacu pada ketentuan dan regulasi berlaku.

Serta secara berkesinambungan terus meningkatkan layanan transportasi udara yang berkualitas bagi masyarakat. 

"Kami percaya kesadaran atas pentingnya keselarasan upaya untuk tumbuh dan pulih bersama di tengah situasi pandemi yang berkepanjangan, menjadi esensi penting guna memastikan ekosistem industri transportasi udara dapat terus bergerak maju memaksimalkan momentum pemulihan. Oleh karenanya, kiranya komitmen ini yang harus terus dijaga oleh seluruh pihak," kata Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra, Minggu (7/8/2022).

2. Inflasi RI Bagaimana?

Kementerian Perhubungan mengizinkan maskapai meningkatkan tarif tiket pesawat. Kontribusi kenaikan tiket pesawat dihitung sekitar 0,06% hingga 0,1% terhadap inflasi.

Baca Juga: Harga Tiket Pesawat Australia-Bali Lebih Mahal dari ke Thailand, Wagub Cok Ace Bilang Begini

Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 142 Tahun 2022 yang diterbitkan pada 4 Agustus 2022 lalu, pemerintah mengizinkan maskapai untuk memungut tarif tambahan pesawat jet dengan porsi maksimal 15% dari tarif batas atas. Sementara pesawat propeller maksimal 25 persen dari tarif batas atas.

"Dampaknya kami pantau memang relatif kecil terhadap inflasi, akan tetapi tetap kami pantau karena kami harus memastikan agar kebijakan-kebijakan yang bisa kami kendalikan harus tetap kami bisa kendalikan," ungkap Febrio, dikutip dari Antara, Senin (8/8/2022).

3. Maskapai Diminta Turunkan Harga Tiket Pesawat

Harga tiket pesawat belakangan ini cukup tinggi. Pengamat Bisnis Penerbangan Gatot Raharjo menilai bahwa secara de facto bisnis penerbangan di Indonesia sudah terjadi monopoli.

Hal itu dikarenakan pemerintah hanya menghimbau maskapai penerbangan untuk menetapkan tarif lebih terjangkau, bukan yang mengatur. Penilaian tersebut dilayangkan setelah dikeluarkannya keterangan resmi dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang menghimbau maskapai penerbangan untuk menetapkan harga tiket angkutan udara lebih terjangkau.

"Ini apa-apaan ya?Ini bukti kalau pemerintah regulator dalam hal ini Kementerian Perhubungan kalah dengan operator (maskapai) terutama yang swasta," katanya kepada dalam keterangan yang diberikan kepada MNC Portal, Senin (8/8/2022).

Gatot mengatakan, pemerintah seharusnya mengatur, mengawasi dan mengendalikan bisnis penerbangan, bukan menghimbau maskapai penerbangan untuk menetapkan harga tiket angkutan udara lebih terjangkau.

Menurutnya, pemerintah merupakan pemegang kekuasaan tertinggi di industri penerbangan. Hal itu dikarenakan pemerintahlah yang membuat aturan memilih hak dalam mengarur tarif penerbangan, modal san kepemilikan maskapai.

Lebih lanjut, Gatot mengatakan, saat ini industri penerbangan secara de facto sudah terjadi monopoli maskapai penerbangan. Tapi secara de jure tidak karena tidak ada aturan yang dilanggar oleh maskapai.

"Artinya, harusnya pemerintah bisa membuat aturan yang dapat menyeimbangkan bisnis penerbangan dan mengurangi monopoli baik secara de facto dan de jure," kata Gatot.

"Kalau sudah monopoli, susah untuk mengatur. Dan itu terbukti adanya himbauan ini. Padahal harusnya cukup dilakukan pengaturan, pengawasan dan pengendalian yang baik," tambahnya.

4. Alasan Pemerintah Merestui Kenaikan Harga Tiket Pesawat

Hal itu tertuang dalam Keputusan Menteri (KM) nomor 142 Tahun 2022 tentang Besaran Biaya Tambahan (Surcharge) Yang Disebabkan Adanya Fluktuasi Bahan Bakar (Fuel Surcharge) Tarif Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri. Di mana, aturan tersebut berlaku mulai 4 Agustus 2022.

Plt Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nur Isnin Istiartono mengatakan, kebijakan ini perlu ditetapkan agar maskapai memiliki pedoman dalam menerapkan tarif penumpang.

"Secara tertulis, himbauan ini telah kami sampaikan kepada masing-masing direktur utama maskapai nasional, untuk dapat diterapkan di lapangan," ujar Nur Isnin dalam keterangan resminya.

Diketahui, penerapan pengenaan biaya tambahan ini bersifat pilihan bagi maskapai atau tidak bersifat mandatori.

Di mana, Kemenhub melakukan evaluasi penerapan biaya tambahan sekurang-kurangnya setiap tiga bulan. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini