JAKARTA – CEO Qantas Alan Joyce mengaku tidak mendapat dukungan yang besar dari pemerintah untuk bangkit dari pandemi covid-19. Hal ini menyebabkan maskapai tidak dapat kembali untung secepat operator lain seperti di Singapura.
Maskapai nasional Australia ini membukukan kerugian wajib sebelum pajak untuk tahun ketiga berturut-turut sebesar USD1,19 miliar dolar Australia (USD830,67 juta) imbas merebaknya covid-19 varian delta dan omicron di Australia.
Qantas mengalami kerugian sebesar A$2,35 miliar pada tahun 2021 dan dan A$2,7 miliar pada 2020.
Ditanya tentang bagaimana Qantas dibandingkan dengan Singapore Airlines, yang kembali ke laba bersih pada kuartal pertama tahun keuangan 2022/2023, Alan Joyce menjawab bahwa pihaknya sangat berbeda dari maskapai di Singapura. Di mana, tidak ada kebutuhan untuk memecat, menurunkan orang-orang yang harus kami lakukan.
“Karena kami akhirnya mendapatkan dukungan pemerintah yang sangat sedikit, pemerintah menyewa beberapa pesawat dan memberi orang-orang kami yang berdiri uang mereka tetapi dengan orang-orang yang menonjol atau tidak memiliki pekerjaan dari maskapai, banyak orang meninggalkan industri,” katanya seperti dilansir CNBC, Jumat (26/8/2022).
“Kedua, kami mengalami gelombang besar Covid di sini di Australia yang tidak direncanakan oleh siapa pun,” tambahnya.
Kerugian pengumuman datang ketika pekerja Qantas memulai aksi mogok pada Kamis waktu setempat untuk memprotes kelambanan negosiasi gaji.
Pada hari Senin, Qantas mulai mengirimkan e-mail kepada penumpang setianya yang meminta maaf karena tidak memenuhi standar yang mereka harapkan dari perusahaan sambil menawarkan diskon A$50 kepada setiap pelanggan untuk penerbangan pulang pergi.