Share

RI Ajak G20 Bantu Negara Berkembang Hadapi Krisis Energi

Antara, Jurnalis · Jum'at 02 September 2022 14:58 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 02 320 2659611 ri-ajak-g20-bantu-negara-berkembang-hadapi-krisis-energi-pRULzilFnR.jpg Menteri ESDM Arifin Tasrif (Foto: Dok Kementerian ESDM)

JAKARTA - Menteri ESDM Arifin Tasrif memimpin pertemuan ETMM G20, menegaskan upaya membangun resiliensi bidang energi harus inklusif, artinya tidak boleh ada negara yang tertinggal dalam mencapai tujuan tersebut.

Arifin Tasrif juga meminta dukungan negara-negara anggota G20 untuk mendukung usulan Indonesia terkait percepatan transisi menuju energi bersih, yang dirangkum dalam dokumen "Bali Common Principles in Accelerating Clean Energy Transitions" atau Bali Compact.

Bali Compact, menurut Arifin, memuat sejumlah prinsip yang dapat menjadi acuan negara-negara untuk mewujudkan transisi energi dari energi berbasis bahan bakar fosil (brown energy) menuju energi baru dan terbarukan (green energy).

“Prinsip-prinsip (usulan Indonesia) ini bertujuan memperkuat perencanaan di tingkat nasional beserta implementasinya untuk memperkuat ketahanan energi, dan stabilitas pasar, serta mewujudkan persediaan energi yang lebih resilien dan infrastruktur pendukungnya, demi meningkatkan efisiensi, investasi dan pendanaan, serta memperkuat kerja sama di pengembangan teknologi dan inovasi,” katanya, Jumat (2/9/2022).

Tidak hanya itu, Bali Compact juga memuat pendekatan komprehensif untuk mewujudkan dunia tanpa emisi (zero emission) yang menjadi tujuan bersama negara-negara.

“Kami menyusun strategi jangka pendek yang dapat membantu mengatasi dampak perubahan iklim dengan mempercepat transisi energi,” kata Arifin Tasrif, ketua pertemuan ETMM G20.

Baca Juga: Presiden Jokowi Sebut Sistem Penyaluran BLT BBM yang Dijalankan Sudah Bagus

Dalam pertemuan yang berlangsung satu hari itu, ada dua agenda yang dibahas, pertama situasi perekonomian global, khususnya di bidang energi, dan kedua upaya mempercepat transisi energi, akses terhadap pembiayaan, dan teknologi.

Dua topik pembahasan itu juga menyoroti berbagai masalah yang dihadapi dunia di sektor energi, antara lain ancaman terhadap ketahanan energi, dan volatilitas pasar yang membuat harga bahan bakar tidak stabil.

Pertemuan tingkat menteri bidang energi G20 di Nusa Dua, Bali, Jumat, dihadiri secara langsung oleh 36 kepala delegasi, yang tidak hanya dari negara anggota G20, tetapi juga lembaga dan organisasi asing seperti Bank Dunia, UNIDO, UN ESCAP, UNDP, OECD, OPEC, IRENA, IEA, SEforAll, ERIA, dan IEF.

Sementara itu, menteri dari anggota G20 yang hadir secara langsung ke Bali, antara lain dari Australia, Jepang, India, Belanda, Turki, dan Inggris.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini