Share

Belajar Hidup Minimalis? Siapa Takut

Anis Salamah, Presma · Jum'at 16 September 2022 14:46 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 16 622 2668930 belajar-hidup-minimalis-siapa-takut-LeTvpsLpeA.jpg Belajar Hidup Minimalis? Siapa Takut (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Belajar hidup minimalis? Siapa takut. Beberapa tahun terakhir, hidup minimalis memang populer di kalangan masyarakat Indonesia.

Lalu apa yang di maksud hidup minimalis? Berikut penjelasannya seperti dirangkum, Jakarta, Jumat (16/9/2022).

Kunci hidup minimalis adalah kembali ke kebutuhan dasar sehingga hanya menyisakan barang-barang yang diperlukan dan menyingkirkan barang yang tidak diperlukan, kebiasaan dalam mengkonsumsi barang yang berlebih, serta mengurangi cinta yang berlebihan terhadap suatu barang.

BACA JUGA: 10 Aplikasi Pengatur Keuangan Terbaik, Patut Dicoba agar Gaji Tak Numpang Lewat 

Merapikan barang dengan 3 metode yakni: pertama, membuang barang yang dalam waktu 90 hari tidak terpakai. Kedua, menyimpan barang yang dalam jangka waktu 90 hari tidak digunakan tetapi akan berguna nantinya seperti palu, obeng, atau peralatan yang umumnya tidak terlalu sering digunakan. Ketiga, memberikan barang yang masih layak digunakan namun tidak akan terpakai dan hanya menumpuk di lemari penyimpanan.

Membeli barang baru dengan pertimbangan sebagai berikut: pertama, membeli barang sesuai dengan kebutuhan dan fungsi yang dapat dihasilkan oleh barang tersebut.

Kedua, menyewa barang yang masih layak pakai dapat menjadi pertimbangan jika barang tersebut masih berfungsi dengan baik, tidak semua barang harus dibeli. Ketiga, membeli barang baru dengan metode 6 bulan, yakni dalam 6 bulan kedepan dapat teridentifikasi barang tersebut akan terus digunakan atau hanya akan menjadi pajangan semata

Dulu, hidup minimalis ini sudah populer di Jepang, dikarenakan keadaan negara yang rawan bencana alam. Masyarakat Jepang menjadi lebih nyaman dengan membuat beberapa hal menjadi lebih praktis dan aman dari bencana.

Melansir dalam buku berjudul Goodbye, Things yang ditulis oleh Fumio Sasaki, hidup minimalis ala orang Jepang adalah ketika seseorang benar-benar mengetahui apa yang penting bagi dirinya sendiri, dan tetap mempertahankan hal-hal tersebut untuk dirinya.

Menurut Fumio, manfaat hidup minimalis dalam jangka panjang jauh lebih besar dibanding rasa bersalah akibat membeli atau menyimpan banyak barang yang tidak dibutuhkan.

Hidup minimalis sama saja dengan hidup sederhana, yaitu konsep menjalani hidup dengan barang yang sedikit, namun tetap berkualitas dan fungsional. Fokus hidup minimalis ada pada meminimalkan gangguan yang dapat menjaga kita untuk melakukan hal-hal yang benar-benar penting. Jadi, kita akan lebih mementingkan barang-barang yang dibutuhkan dan mengutamakan kualitas daripada kuantitas.

Sementra, Francine Jay dalam bukunya yang berjudul Seni Hidup Minimalis mengatakan bahwa, ada tiga jenis barang, yaitu barang fungsional, barang dekoratif, dan barang emosional.

Kita perlu mengenal barang melalui tiga jenis barang tersebut. Pertimbangan atas barang yang kita inginkan belum tentu adalah yang kita butuhkan. Maka dari itu, milikilah barang yang benar-benar dibutuhkan, bukan hanya karena keinginan atau sekadar kepuasan sementara, karena barang yang berguna adalah barang yang kita gunakan.

Untuk menerapkan hidup minimalis dalam hidup, kamu bisa memulainya dengan aturan 90/90, yaitu mempertimbangkan apakah barang tersebut akan digunakan di 90 hari ke depan, dan 90 hari setelahnya.

Kalau kamu memiliki barang tidak terpakai dalam waktu tersebut, kamu dapat menyingkirkannya atau memberikannya kepada orang yang lebih membutuhkan kalau barang tersebut masih layak digunakan. Namun, kalau barangmu akan berguna di waktu-waktu tertentu, kamu dapat menyimpannya lebih dulu.

Jadi, bagaimana? Apakah kamu tertarik untuk menerapkan gaya hidup minimalis? Meski kelihatannya tidak mudah, banyak manfaat yang bisa didapatkan, lho! Seperti ketenangan, kebahagiaan, hingga efisiensi waktu. Kalau kamu tertarik, kamu bisa memulainya dari hal yang paling sederhana dengan konsisten. Kamu pasti bisa, kok!

Anis Salamah adalah aktivis Pers Mahasiswa Ketik dari Polimedia

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini