Share

Surplus Gas tapi RI Doyan Impor Minyak

Rizky Fauzan, MNC Portal · Rabu 05 Oktober 2022 18:28 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 05 320 2681369 surplus-gas-tapi-ri-doyan-impor-minyak-cQ6chWGWnc.jpg RI Surplus Gas tapi Masih Impor Minyak. (Foto: Okezone.com/Pertamina)

JAKARTA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas dan Gas Bumi (SKK Migas) menyoroti ketidakseimbangan antara produksi dan permintaan minyak mentah di Indonesia.

SKK Migas mencatat jumlah kebutuhan minyak di Republik Indonesia terus meningkat. Namun, produksi minyak mentah di dalam negeri dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan secara alamiah.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan bahwa terdapat gap (selisih) antara produksi dan tingkat konsumsi minyak di dalam negeri. Dia menyadari Indonesia saat ini memang merupakan negara net importir untuk minyak.

Baca Juga: Alasan Produksi Migas RI Belum Capai Target

Produksi minyak Indonesia saat ini di sekitar 650 ribu barel per hari (bph). Sementara kapasitas kilang yang ada hanya 1 juta bph, artinya sebesar 350 ribu bph masih dipenuhi dari impor.

"Ada beberapa hal yang perlu kita pahami tadi, tetapi memang kondisinya demikian. Kita punya potensi di bidang migas. Tapi minyak kita sudah impor. Kira kira kalau produksi kita 650 ribu barel per hari dan kapasitas kilang 1 juta (bph), berarti kita impor 300-an ribu bph," papar Dwi di Bandung, Selasa (4/10/2022).

Namun demikian, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan cadangan gas yang dimiliki Indonesia. Adapun untuk sumber gas, RI malah justru mempunyai pasokan gas yang melimpah.

Baca Juga: 5 Sumur yang Punya Harta Karun Migas, Ini Daftarnya

Apalagi, Indonesia juga masih memiliki empat proyek gas yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional, di antaranya yaitu Jambaran Tiung Biru (JTB) oleh Pertamina, proyek Train-3 Kilang LNG Tangguh di Teluk Bintuni, Papua Barat oleh BP.

Berikutnya, proyek Indonesia Deepwater Development (IDD) yang dikelola Chevron Indonesia Company. Kemudian, proyek Kilang LNG Abadi Masela yang dikelola oleh Inpex Corporation.

"Dan kalau gas berlebih kita ekspor, apalagi nanti potensi ke depan akan lebih banyak gas," ujarnya.

Sementara itu, SKK Migas mencatat realisasi produksi minyak siap jual atau lifting hingga kuartal III 2022 masih belum mencapai target. Beberapa di antaranya karena disebabkan kejadian penghentian produksi yang tidak direncanakan (unplanned shutdown), serta adanya kebocoran pipa karena fasilitas hulu migas yang sudah menua.

Tenaga Ahli Kepala SKK Migas Ngatijan menyampaikan, terdapat tantangan terberat terkait dengan upaya meningkatkan lifting minyak dan gas, serta upaya mencapai target investasi hulu migas di tahun 2022.

Berdasarkan data SKK Migas, realisasi lifting minyak hingga 30 September baru mencapai 610,1 ribu barel per hari (bph) atau baru mencapai 86,8% dari target 703 ribu bph. Sedangkan untuk gas mencapai 5.353 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) atau 92,3% dari target 5.800 MMSCFD.

"Jadi dari awal tahun kita tahu bahwa kemampuan kita pada saat itu untuk mencapai 703 ribu barel itu sangat susah," ucapnya.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Sebagaimana diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menurunkan target lifting minyak mentah ke posisi 660.000 barel per hari dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2023.

“Lifting minyak dan gas bumi diperkirakan masing-masing mencapai 660.000 barel per hari dan 1,05 juta barel setara minyak per hari,” kata Jokowi saat menyampaikan Pidato Pengantar RAPBN 2023 dan Nota Keuangan, Jakarta, Selasa (16/8/20222).

Adapun, proyeksi lifting minyak mentah itu relatif lebih rendah dari target yang sempat dipatok pemerintah pada APBN 2022 yaitu 703.000 barel per hari.

Sementara itu, Jokowi mematok asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia crude price (ICP) berada di angka US$90 per barel pada rancangan APBN tahun depan.

“Harga ICP diperkirakan akan berkisar pada US$90 per barel,” tuturnya.

Asumsi hulu migas itu diimbangi dengan proyeksi rata-rata nilai tukar rupiah yang diperkirakan bergerak di sekitar Rp14.750 per US$ dan rata-rata suku bunga Surat Utang Negara 10 tahun diprediksi pada level 7,58 persen.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini