JAKARTA - PT Jaya Bersama Indo Tbk (DUCK) terancam didelisting atau penghapusan di papan perdagangan oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dikutip Harian Neraca, otoritas bursa menyebutkan penghapusan emiten restoran tersebut dapat dilakukan dengan mempertimbangkan Pengumuman Bursa No. Peng-SPT-00009/BEI.PP1/08-2022 tanggal 30 Agustus 2021 perihal Penyampaian Laporan Keuangan Auditan yang Berakhir per 31 Desember 2020, serta Peraturan Bursa Nomor I-I tentang Penghapusan Pencatatan (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting) Saham di Bursa.
BACA JUGA:BEI: Ada 2,3 Juta Investor Baru di Pasar Modal
Adapun tertuang dalam Ketentuan III.3.1.1, BEI dapat menghapus saham perusahaan tercatat apabila mengalami kondisi, atau peristiwa, yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha, baik secara finansial atau secara hukum.
Kemudian, dijelaskan bahwa penghapusan juga mempertimbangkan dampak terhadap kelangsungan status sebagai perusahaan terbuka dan perusahaan tersebut tidak dapat menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai.
Diketahui, penghapusan saham DUCK juga dapat dilakukan akibat suspensi di pasar reguler dan pasar tunai, serta hanya diperdagangkan di pasar negosiasi sekurang-kurangnya selama 24 bulan terakhir. Disebutkan, saham DUCK telah disuspensi selama 13 bulan pada tanggal 1 Oktober 2022. Dalam pengumuman suspensi saham DUCK tertanggal 13 September 2021, BEI menyebutkan DUCK belum menyampaikan keterbukaan informasi atas permintaan penjelasan BEI.
Di mana perseroan juga tidak menghadiri undangan dengar pendapat yang dilaksanakan bursa. Adapun pada surat penjelasan kepada BEI pada 17 Juni 2022, DUCK sempat memberi penjelasan bahwa masalah pribadi antara pemegang saham tidak berkaitan dengan perseroan.
Selain itu, tertundanya penyampaian laporan keuangan yang berakhir pada 31 Desember 2020 disebut disebabkan oleh pengunduran diri beberapa karyawan karena dampak bisnis yang timbul karena pandemi Covid-19. Jaya Bersama Indo merupakan emiten yang mengelola jaringan restoran masakan China The Duck King.
Perusahaan ini mengakuisisi restoran merek Fook Yew pada Juli 2017 dalam rangka integrasi segmen.
Lalu, perseroan sendiri memangkas target bisnis turun 30%-40% baik dari pendapatan dan laba bersih. Direktur DUCK, Tio Dewi pernah bilang, tahun 2020 perseroan menargetkan pendapatan sebesar Rp 800 miliar dan diproyeksikan turun 40% dari target awal dan begitu juga dengan laba bersih yang ditargetkan tahun ini turun 30%.
Perseroan memastikan, dampak dari pandemi telah membuat rencana ekspansi bisnis pembukaan gerai tertunda hingga pemangkasan karyawan sebagai bentuk efisiensi.
Saat ini, dari 36 restoran yang dimiliki perseroan hanya 70% sudah buka atau 26 lokasi restoran. Oleh karena itu, lanjut Dewi, revisi target bisnis 2020 tidak bisa dielakkan karena jumlah pengunjung mall sendiri masih turun dari hari biasa sebelum Covid.
(Zuhirna Wulan Dilla)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.