JAKARTA – Nauru adalah negara paling tajir di dunia yang kini justru melarat. Nauru adalah negara kepulauan berpenduduk 10 ribu orang yang kini jatuh miskin karena boros.
Perekonomian Nauru ditopang sektor tambang bawah laut yang kaya akan logam penting untuk industri energi bersih, seperti nikel, kobalt, dan mangan. Pertambangan laut itu diusung DeepGreen, perusahaan asal Kanada yang dijalankan oleh pengusaha Australia, Gerard Barron. Perusahaan ini juga didukung oleh raksasa pertambangan Glencore dan perusahaan pelayaran Maersck.
Meski dulu terkenal sebagai negara terkaya dunia, The Guardian melaporkan kisah Nauru terjun bebas dan menyisakan cerita kolonialisme yang rakus, salah urus, dan ketamakan pemerintah.
Pada 1968, Australia, Selandia Baru, dan Inggris hampir kehabisan cadangan fosfat yang layak. Dengan permintaan dunia yang tinggi, negara-negara itu menjadikan Nauru sebagai pusat pasokan fosfat. Pasalnya, Nauru memang menyimpan kekayaan fosfat yang sangat bermutu.
Namun eksploitasi tambang yang berlebihan itu memicu bencana lingkungan terburuk di dunia terjadi di sana. Berkat penambangan yang super masif, tanah Nauru penuh dengan batu kapur bergerigi yang tak cocok untuk pertanian, bahkan bangunan.
Bahkan, 10 ribu penduduknya diminta pindah ke sebuah pulau di lepas pantai Queensland. Meski begitu, permintaan ini ditolak orang Nauru. Alhasil, hanya sebagian besar yang akhirnya dipaksa pindah karena meningkatnya pembukaan tambang fosfat.