Share

Bahlil Ungkap Penyebab Perdagangan Karbon G20 Belum Deal

Iqbal Dwi Purnama, Okezone · Senin 24 Oktober 2022 15:18 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 24 320 2693445 bahlil-ungkap-penyebab-perdagangan-karbon-g20-belum-deal-DfLcFRN9uo.jpg Bahlil ungkap penyebab perdagangan karbon belum deal (Foto: Setkab)

JAKARTA - Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengungkap penyebab perdagangan karbon belum deal pada presidensi G20 di Indonesia. Salah satunya menyangkut ketimpangan harga karbon antara negara maju dan negara berkembang.

Bahlil mengungkapkan negara-negara maju enggan untuk membeli membeli karbon yang diserap oleh negara berkembang. Padahal justru negara berkembang yang punya potensi dalam menyerap karbon yang lebih besar.

"Jadi harga karbon itu dibuat seolah2 tidak adil dengan pandangan saya, karena Eropa itu maunya mereka lebih tinggi dibandingkan dengan karbon yang asalnya dari negara berkembang seperti Indonesia," ujar Bahlil usai konferensi pers realisasi investasi Kuartal III di Kantornya, Senin (24/10/2022).

Bahlil menilai harga karbon yang diserap oleh negara maju punya harga USD100, sedangkan negara maju ketika membeli karbon dari negara berkembang hanya mau menghargai USD10.

Bahlil mengungkapkan hal tersebut dikarenakan untuk menanam pohon untuk menyerap karbon di negara maju lebih susah jika dibandingkan dengan negara berkembang seperti Indonesia yang masih punya banyak lahan hijau.

Baca Juga: BuddyKu Festival, Generasi Muda Wajib Hadir

Follow Berita Okezone di Google News

"Saya katakan ini tidak adil, terus saya bilang "loh kenapa kalian sudah tebang duluan di awal, masa kalian membuat sama dengan kita," jadi itu saya menganggap nggak fair," kata Bahlil.

Menurutnya revolusi industri negara maju merupakan hasil dari penebangan pohon yang dilakukan sebelumnya. Membuka lahan untuk bangun industri-industri baru sehingga membuat kuat perekonomian negara maju.

"Mungkin salah satu di antaranya (tidak ada kesepakatan), harga ya saya bicara harga, kita tidak ada kesepakatan," kata Bahlil.

"Jadi menyangkut harga karbon itu drop, jadi karbonisasinya didrop. Perdebatannya sengit sekali. tapi hilirisasi dan nilai tambah itu tercapai (kesepakatan)," pungkasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini