Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ancaman Resesi Global 2023, Bagaimana Nasib Industri Properti?

Khairunnisa , Jurnalis-Senin, 24 Oktober 2022 |14:12 WIB
Ancaman Resesi Global 2023, Bagaimana Nasib Industri Properti?
Ancaman Resesi Global 2023, Bagaimana Nasib Industri Properti? (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Ekonomi dunia dihantui resesi global 2023. Badai ekonomi atau perfect strom akan menghantui hampir seluruh negara, termasuk Indonesia. Perekonomian global dibayangi ancaman resesi yang dipicu krisis pangan, energi, finansial serta konflik geopolitik Ukraina vs Rusia.

Tentunya, badai ekonomi ini akan berdampak pada sektor ekonomi, seperti sektor properti. Lalu bagaimana nasib industri properti di tengah ancaman resesi global 2023?

Direktur Eksekutif Lippo Group John Riady optimistis sektor properti di dalam negeri tetap prospektif. Hal ini berkaca pada secara makro perekonomian nasional jauh lebih baik dibandingkan negara lain.

"Ancaman resesi memang ada tetapi dari potensi dan kekuatan struktur ekonomi Indonesia, kita masih bisa lebih baik dan mampu bertahan," ujar John dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Senin (24/10/2022).

BACA JUGA: Dampak Kenaikan Suku Bunga BI, KPR Makin Mahal? 

Diketahui. sejumlah lembaga dunia, termasuk Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan perekonomian global akan masuk jurang resesi pada tahun depan sebagai dampak dari kenaikan suku bunga dan inflasiakan memukul sektor ekonomi.

IMF juga menurunkan proyeksi pertumbuhan global tahun depan hanya 2,7% dan memperingatkan terjadinya resesi, jika para pembuat kebijakan salah menangani perang melawan inflasi.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memproyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan sebesar 5,3%. Di sisi lain, dalam menghadapi potensi resesi, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) telah menerapkan berbagai strategi, mulai dari pengendalian inflasi dari sisi harga pangan, hingga secara perlahan-lahan menaikkan suku bunga acuan.

BACA JUGA:DP KPR 0% Diperpanjang, Masyarakat Langsung Beli Rumah? 

Imbas kebijakan itupun akan mempengaruhi pasar seperti terindikasi dari indeks kepercayaan konsumen dan penurunan indeks manufaktur. Persoalan serupa juga bakal dirasakan sektor properti sebagai salah satu pilar perekonomian nasional. John mengatakan sektor properti akan tetap berpeluang mengalami pertumbuhan. Karena dari segi investasi, properti masih menjadi aset yang baik di tengah kondisi ekonomi saat ini.

“Jika sektor properti bisa diselamatkan, saya yakin daya tahan ekonomi nasional menjadi lebih kuat,” kata John.

 .

Menurutnya, sejauh ini sektor properti menjadi salah satu sektor penyangga terbesar Produk Domestik Bruto (PDB), sekitar 13,6%. Selain itu, terdapat ekosistem industri yang sangat besar terkait sektor properti, sedikitnya 175 jenis industri terlibat di sektor itu.

Dengan postur yang ada, sektor properti diyakini mampu menggerakkan roda perekonomian dan menjadi andalan pendapatan pajak pusat maupun daerah.

“Karena itu penting bagi kami berupaya mengembangkan dan menyelamatkan sektor properti agar perekonomian nasional tetap tumbuh,” kata John.

Inflasi 

John juga merespon positif langkah Bank Indonesia untuk melanjutkan kebijakan relaksasi rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV) untuk kredit/pembiayaan properti maksimal 100%. Seperti diketahui, mulanya insentif itu akan berakhir pada akhir tahun ini, namun Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada 19-20 Oktober lalu memutuskan untuk memperpanjang hingga akhir 2023.

“Kami tentunya menyambut baik keputusan dari Bank Indonesia untuk melanjutkan kebijakan relaksasi di sektor properti ini. Perpanjangan insentif ini kami yakini akan mendorong penyaluran kredit perbankan kepada dunia usaha, sehingga memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian,” jelas John.

Di sisi lain, John menilai sektor properti telah menunjukkan daya tahan luar biasa selama pandemi. Daya resiliensi yang sama, lanjutnya, akan menjadi modal sektor properti melewati masa krisis.

“Yang jelas, sektor properti akan tetap prospektif. Sebabnya, Indonesia masih memiliki kesenjangan kepemilikan pemukiman, selain itu pertumbuhan kelas menengah yang kuat akan menjamin kesinambungan pertumbuhan permintaan tersebut,” kata John.

Lebih jauh, kata dia, faktor kelas menengah dan permintaan domestik yang besar inilah sebagai juruselamat bagi perekonomian nasional menghadapi kondisi terpuruknya perekonomian global.

“Hal ini sejalan dengan perkiraan IMF, yang menyinggung kondisi perekonomian Indonesia jauh lebih tahan menghadapi ketidakpastian saat ini,” katanya

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement