Share

Hati-Hati! Masa Tua Miskin Tak Punya Tabungan Hari Tua, Pekerja Klaim JHT di Usia Produktif

Iqbal Dwi Purnama, MNC Portal · Selasa 15 November 2022 17:58 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 15 320 2708164 hati-hati-masa-tua-miskin-tak-punya-tabungan-hari-tua-pekerja-klaim-jht-di-usia-produktif-Px0CSYfc3p.jpg Pekerja Klaim JHT di Usia Produktif

JAKARTA - Terungkap fakta bahwa usia 20-35 tahun paling banyak melakukan klaim Jaminan Hari Tua (JHT). Data ini disampaikan Anggota Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan, Subchan Gatot.

Menurutnya, saat ini masih banyak usia produktif melakukan klaim JHT. Namun, hal tersebut sangat disayangkan karena dana tersebut seharusnya bisa mejadi jaminan ketika pekerja masuk usia tidak produktif.

"Kita coba lihat sedikit siapa yang paling banyak atau di usia berapa yang paling banyak klaim JHT, sayangnya 61% mereka berada di usia produktif," ujar Subchan dalam RDP Bersama Komisi IX DPR RI, Selasa (15/11/2022).

BACA JUGA:2 Perbedaan Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pensiun BPJS Ketenagakerjaan 

Atas data tersebut, Pemerintah beberapa bulan lalu mengeluarkan Permenaker untuk mengembalikan fungsi JHT yang bisa diklaim ketika usia pekerja menginjak 56 tahun. Akan tetapi hal itu justru ditolak setikat pekerja.

"Makanya kemarin ini menjadi dasar pertimbangan kenapa JHT mau dikembalikan lagi fungsinya. Karena sayang mereka masih usia produktif tetapi JHT sudah dicairkan," katanya.

 

Baca Juga: Hadirkan Acara Meet Eat Inspire, Hypernet Technologies Tawarkan Layanan untuk Produk Server dan Storage

Follow Berita Okezone di Google News

Subchan menambahkan, data tersebut diambil pada perhitungan per Oktober 2022. Artinya seperti diketahui bahwa pada tahun 2022 juga marak PHK karyawan yang membuat mereka melakukan pencarian JHT.

Bahkan hingga Oktober 2022, total klaim JHT tembus 2,8 juta orang yang mayoritas diklaim oleh pekerja usia produktif. Bahkan untuk klaim JHT pada rentan usia 50 - 56 dan di atas 56 tahun hanya berkontribusi sekitar 11%.

"Jadi 61% dari JHT yang tadi diklaim sebesar Rp2,8 triliun itu diambil oleh pekerja usia produktif, sehingga punya risiko saat usia tidak produktif, tabungannya sedikit," katanya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini