CHICAGO - Harga emas menguat pada akhir perdagangan Selasa. Harga emas berbalik menguat dari kerugian sebelumnya karena didukung ekspektasi Federal Reserve kemungkinan memperlambat laju kenaikan suku bunga dalam upaya mengendalikan inflasi AS.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari di divisi Comex New York Exchange naik USD8,40 atau 0,48% menjadi USD1.763,70 per ounce, setelah diperdagangkan mencapai tertinggi sesi di USD1.773,40 dan terendah di USD1.752,90.
Baca Juga: Segram Emas Antam Turun Jadi Rp977.000
Sedangkan logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret naik 31,1 sen atau 1,47% menjadi USD21,436 per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari meningkat USD9,30 atau 0,93% menjadi USD1.008,60 per ounce.
Baca Juga: Harga Emas Tertekan Dolar AS, Hari Ini Dijual USD1.740/Ounce
Data ekonomi yang dirilis pada Selasa beragam. Indeks harga 20 kota AS CoreLogic Case-Shiller S&P turun 1,2% pada September, penurunan bulanan ketiga berturut-turut dan menyamai penurunan 1,3% yang diharapkan oleh para ekonom.
The Conference Board melaporkan bahwa indeks kepercayaan konsumen turun menjadi 100,2 pada November, dari 102,2 pada Oktober dan terendah sejak Juli. Demikian dikutip dari Antara, Rabu (30/11/2022).
Presiden Fed St Louis James Bullard mengatakan pada Senin (28/11/2022) bahwa Fed memiliki "cara untuk pergi" pada kenaikan suku bunga, dan dapat terus menaikkannya dan menahannya hingga 2024 untuk memerangi inflasi. Dia juga menegaskan kembali pandangannya bahwa suku bunga perlu dinaikkan setidaknya 1,0% menjadi antara 5,0% dan 5,25%
Secara terpisah, Presiden Federal Reserve New York John Williams mengatakan bank sentral kemungkinan akan mulai memangkas suku bunga pada 2024, karena tekanan inflasi akhirnya mereda. Dia juga mengatakan bahwa biaya pinjaman perlu dinaikkan lebih lanjut untuk menurunkan inflasi.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.