JAKARTA - Dana Moneter Internasional (IMF) mengungkapkan bahwa negara-negara berpenghasilan rendah membutuhkan dana hampir USD500 miliar atau setara Rp7.797 triliun untuk pembiayaan eksternal selama periode 2022-2026. Jumlah tersebut meningkat sekitar USD57 miliar dari perkiraan tahun lalu karena sebagian besar limpahan dari perang Rusia di Ukraina.
IMF dalam makalah kebijakan barunya mengungkapkan bahwa perang Ukraina, yang telah memperburuk inflasi dengan kenaikan besar dalam harga pangan, energi dan pupuk global, akan memperlambat pemulihan negara-negara berpenghasilan rendah dari pandemi Covid-19 dan lebih lanjut menunda pendapatan per kapita konvergensi dengan ekonomi yang lebih maju.
Baca Juga: Bank Dunia-IMF Sanjung Indonesia Sukses Gelar KTT G20 Tersulit dalam Sejarah
IMF mengatakan posisi fiskal negara-negara berpenghasilan rendah semakin tertekan karena pemerintah menggenjot pengeluaran untuk mengatasi dampak pandemi dan perang di Ukraina, dan untuk melindungi mereka yang rentan dari harga pangan dan bahan bakar yang tinggi. Akibatnya, kerentanan utang telah meningkat.
Dikatakan pertumbuhan pada 2022 di negara-negara tersebut telah kehilangan momentum, sementara percepatan inflasi yang cepat telah melebarkan defisit fiskal. Demikian dikutip dari Antara, Jumat (9/12/2022).
Baca Juga: 66 Negara Antre Jadi Pasien IMF, Presiden Jokowi Sebut Tak Bisa Diselamatkan Semua
Sementara itu indikator kesinambungan utang belum mencapai tingkat yang terlihat pada malam peluncuran prakarsa Negara-Negara Miskin Berutang Berat (Heavily Indebted Poor Countries/HIPC) IMF-Bank Dunia tahun 1996, pergeseran lanskap kreditur ke arah non-Paris Club dan kreditor swasta "membawa tantangan baru untuk restrukturisasi utang yang cepat dan teratur," kata IMF.
China telah menjadi kreditor bilateral terbesar di dunia dalam beberapa tahun terakhir, menuai kritik yang meningkat dari negara-negara Barat karena keengganannya untuk memberikan keringanan utang kepada negara-negara berkembang yang tertekan.
Prakiraan terbaru IMF datang sehari setelah Bank Dunia mengeluarkan laporan baru tentang meningkatnya beban utang untuk negara-negara termiskin di dunia, memprediksi bahwa mereka sekarang akan membelanjakan lebih dari sepersepuluh dari pendapatan ekspor mereka USD62 miliar untuk melayani utang bilateral eksternal, proporsi tertinggi sejak 2000.
IMF mengatakan bahwa kebutuhan pendanaan eksternal 2022-2026 untuk negara-negara berpenghasilan rendah yang bertujuan mengatasi warisan pandemi Covid-19, mempercepat pertumbuhan pendapatan yang terhenti, dan membangun kembali penyangga eksternal akan berjumlah sekitar USD440 miliar, hampir sama dengan perkiraan satu tahun lalu untuk periode 2021-2025.
Tetapi tambahan kebutuhan pendanaan 2022-2023 yang dipicu oleh perang Ukraina akan membuat totalnya menjadi setidaknya USD97 miliar.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.