"Masih ada disparitas yang sangat lebar dalam indeks inklusi finansial di anggota-anggota ASEAN. Angka inklusi keuangan ini mulai dari yang terendah 3% hingga 70% yang tertinggi di kawasan ASEAN. Rata-rata sebesar 41% tidak bermakna apa-apa karena besarnya kesenjangan indeks ini," jelas Sri.
Sebagai tambahan dari kurangnya akses terhadap layanan finansial formal, yang juga menunjukkan sebuah tantangan penting, mencapai akses layanan finansial formal sendiri akan menjadi sebuah kisah kesuksesan bagi UMKM, di mana UMKM ini memegang peran terpenting dalam aktivitas ekonomi, khususnya di Indonesia.
Jadi, inklusi finansial bagi UMKM adalah salah satu dari agenda prioritas terpenting di ekonomi ASEAN, dan juga di Indonesia tentunya.
"Bagaimana kita akan mengembangkan ekosistem digital di dalam konteks memperkuat dan mendukung UMKM juga akan mendorong dan menciptakan sebuah peluang untuk mencapai sustainable development goals (SDGs). Mengurangi kemiskinan, menciptakan lapangan kerja, dan menciptakan kesetaraan tentunya akan bergantung pada inklusi keuangan ini," pungkas Sri.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)