Selain itu, dalam pertemuan dengan para pengusaha Korsel, Arsjad juga menawarkan berbagai peluang investasi di Indonesia, khususnya di bidang transisi energi, kesehatan, ekonomi digital, dan pembangunan mega proyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
Arsjad mengatakan Indonesia menjadi satu-satunya negara yang memiliki kemitraan strategis khusus dengan Korea Selatan di antara negara-negara ASEAN.
Kemitraan khusus itu, lanjutnya, melahirkan kesepakatan untuk mewujudkan ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan baterai.
Senada, Wakil Ketua ASEAN-BAC Bernardino Vega mengungkapkan bahwa produk domestik bruto (PDB) Indonesia di sekitar 80 persen dari Korea Selatan dan total kapitalisasi pasar saham di Indonesia hanya berkisar 30 persen dari yang ada di Korea Selatan.
"Ini adalah peluang yang harus kita manfaatkan sebaik-baiknya. Indonesia saat ini memiliki sekitar 4,6 juta investor saham, yang jumlahnya kurang dari 2% dari total populasi penduduk. Ini menunjukkan masih ada potensi pertumbuhan yang cukup besar," katanya.
Sementara itu, menurut Vice President Director and Group CEO Indika Energy Azis Armand, pengembangan ekosistem kendaraan listrik berperan penting untuk mempercepat transisi menuju transportasi berkelanjutan di Indonesia.
“Transformasi ke kendaraan listrik juga perlu diimbangi dengan peningkatan investasi, untuk memperkuat fasilitas dan infrastruktur kendaraan listrik. Hal ini merupakan bagian dari misi Indika Energy dalam menghadirkan ekosistem kendaraan listrik yang komprehensif di Indonesia,” tutur Azis.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.