Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

4 Perbedaan Workaholic dan Pekerja Keras

Sri Kurnia Ningsih , Jurnalis-Rabu, 19 Juli 2023 |17:12 WIB
4 Perbedaan <i>Workaholic</i> dan Pekerja Keras
Perbedaan workaholic dan pekerja keras (Foto: Shutterstock)
A
A
A

JAKARTA - Dalam dunia kerja yang semakin ketat, pekerja dituntut untuk selalu meningkatkan produktivitas dan kemampuannya. Pekerja seolah dituntut membuat semua orang agar bertahan demi mendapatkan penghasilan untuk menghidupi diri dan keluarganya.

Dampaknya semakin banyak pekerja yang kompetitif menjadi workaholic atau kecanduan bekerja yang menghabiskan seluruh waktunya demi bekerja untuk perusahaan. Hal ini tidak bagus bagi kesehatan, baik fisik maupun mental. Namun, perbedaan antara keduanya sangat penting, karena melibatkan keseimbangan bagi kualitas hidup.

Demikian, masih banyak juga para pekerja yang menyisihkan waktu untuk menikmati kehidupan di luar pekerjaannya. Di samping itu juga dia tetap bekerja keras dengan baik dan giat. Pekerja seperti itu adalah tipe pekerja keras.

Ditulis akun Instagram kementerian Ketenagakerjaan @kemnaker, Jakarta, Rabu (19/7/2023), berikut ciri-ciri dan perbedaan antara pekerja yang workaholic vs pekerja cerdas.

1.Ambisius dan Realistis

Seorang pekerja workaholic biasanya merasa terpaksa untuk bekerja. tidak pernah menikmati sebuah pekerjaannya dan biasanya bekerja tidak sesuai passion atau kemampuannya. Di sisi lain, workaholic juga terlalu serius dalam bekerja tanpa memikirkan apapun selain pekerjaannya, bahkan dia menghabiskan waktu luangnya dengan tetap bekerja atau memikirkan kerjaan. Tipe ini cendrung ambisius untuk mencapai target. Jika targetnya tidak tercapai, dia bisa stres dan akan menyalahkan diri sendiri bahkan orang di sekitar kerjanya.

Pekerja cerdas, memiliki kemampuan untuk memprioritaskan tugas-tugas yang penting dan mengatur waktu dengan baik. Pekerja cerdas tidak hanya fokus pada kuantitas kerja yang mereka lakukan, tetapi juga kualitasnya. Mereka mengenali bahwa waktu yang dihabiskan dengan cerdas dan tujuan yang jelas akan memberikan hasil yang lebih baik.

2.Keseimbangn Hidup (work life balance)

Workaholic cenderung mengabaikan aspek-aspek penting dalam hidup, mereka mungkin merasa tidak puas tanpa bekerja terus-menerus dan cenderung mengorbankan waktu yang seharusnya mereka habiskan untuk bersantai dan memulihkan energi.

Sebaliknya, pekerja cerdas memahami pentingnya keseimbangan hidup, mereka menjalin hubungan yang bermakna, serta mengejar minat, bakat dan kemampuannya.

3.Manjemen Kesehatan Fisik dan Mental

Seorang workaholic tidak memiliki pemahaman yang baik tentang prioritas, mereka cenderung merasa terburu-buru untuk menyelesaikan tugas dan sering kali terjebak dalam rutinitas yang tidak produktif, sehingga suka lupa untuk menjaga kesehatan fisik dan mental diri sendiri.

Pekerja cerdas memiliki prioritas yang kuat, mereka mengidentifikasi tugas-tugas yang paling penting dan berfokus pada hal-hal yang memberikan dampak terbesar dalam mencapai tujuan mereka. Pekerja keras juga mampu mengutamakan kesehatan fisik dan mental di atas pekerjaannya.

4.Prioritas Pekerjaan

Pekerja yang tidak kecanduan kerja juga tahu kapan waktunya menolak pekerjaan dengan sopan, apalagi ketika pekerjaannya di luar tanggung jawab dan melebihi waktu kerja. Ketika bekerja, dia juga tidak mau diganggu agar kerjaan bisa segera tuntas dan hasilnya maksimal.

Berbeda dengan workaholic, pekerja keras selalu berusaha memperbaiki diri jika target belum tercapai, bukan menyalahkan diri sendiri atau rekan kerjanya dan malah stres sendiri sehingga kesehatan mentalnya terancam.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement