Sebab, penetapan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar bergantung pada keputusan pemerintah yang memperhitungkan sejumlah faktor, termasuk kemampuan anggaran subsidi.
Hal itu pula yang membuat harga Pertalite tidak mengalami kenaikan ketika tren harga minyak mentah naik, begitu pun sebaliknya ketika harga minyak mentah turun.
Arifin pun menegaskan, untuk saat ini memang harga Pertalite tidak ikut turun. Meski begitu, ia tidak menjelaskan lebih lanjut terkait potensi penurunan harga Pertalite ke depannya.
"Jadi ini (BBM non subsidi) turun-naiknya itu mengikuti fluktuasi harga minyak internasional, tapi yang BBM subsidi (harganya) tetap," kata dia.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Tutuka Ariadji pun mengungkapkan harga keekonomian Pertalite masih lebih tinggi Rp2.000 per liter dibandingkan harga jualnya saat ini. Sehingga apabila dihitung maka
"Oh masih lebih. Harga ekonominya masih lebih (dari harga jual). Lebihnya bisa sekitar Rp2 ribuan," ujarnya ketika ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (1/11/2023) lalu.
Sehingga dirinya mengaku belum melihat peluang penurunan harga Pertalite. "Kita belum melihat itu," urainya.
Lebih lanjut, Tutuka juga mengaku bahwa harga minyak saat ini memang masih tidak stabil. Sebab, ketika perang Hamas-Israel memanas namun harga minyak mentah dunia ternyata menurun.
"Coba Anda lihat bahwa Hamas makin keras, tetapi harga minyak bisa turun. Jadi artinya apa, Artinya Arab Saudi yang betul-betul menjaga dan mengurangi supaya harga tetap. Sejak kemarin dia mengurangi suplai. Tapi pada saat tentu dia akan menambah suplai. Jadi ya perannya Saudi Arabia itu dan OPEC+ itu menentukan," pungkasnya.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.