JAKARTA - Ekonomi Indonesia 2024 diproyeksi dipengaruhi dua faktor yang menyangkut pemilihan umum yaitu kegiatan konsumsi dan government spending.
Ekonom FEB UI Telisa Aulia Falianty menerangkan, kegiatan pemilu saat ini agak berbeda dengan yang dahulu dan berimbas pada konsumsi.
"Kegiatan pemilu itu agak berbeda ya dahulu dan sekarang jadi kalau biasanya kegiatan pemilu itu impactnya ke kegiatan konsumsi ya, kalau investasi kan biasanya agak wait and see. Jadi satu-satunya yang diharapkan dari dampak pemilu tuh melalui konsumsi dan government spending," ungkap Telisa, Senin (1/1/2024).
Menurut Telisa, jika dilihat dari sisi konsumsi rumah tangga dengan adanya bantuan sosial (bansos) yang banyak jelang pemilu dan pembagian dana para pasangan calon itu akan mendorong konsumsi.
Kemudian yang kedua dari sisi government spendingnya sendiri, pemerintah sudah mengalokasikan Rp74 triliun untuk kegiatan pemilu ini jadi otomatis untuk produk domestik bisa meng-create multiplier effect juga.
"Cuma kalau dari hitungan kami sih biasanya gak lebih dari 0,1% naiknya (pertumbuhan ekonomi dari 5%), kalau dulu bisa lebih tinggi karena kegiatan pemilunya offline, apalagi dana pemilu sumbernya harus diketahui," ungkap Telisa.
"Tapi harapannya tetap positif dari sisi konsumsi dan government spending," pungkasnya.
Selain itu, Telisa menilai Indonesia mengalami fundamental ekonomi yang kuat karena sering digadang-gadang masalah pertama bonus demografi penduduk muda yang spendingnya juga menopang.
Sementara itu, yang kedua Indonesia sangat dibantu oleh sektor komoditi yang menopang ekspor terutama. Meskipun ekspor melambat, namun neraca dagang selama 40 bulan berturut-turut tetap positif.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.