Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

12 Fakta Harga Tanah Jakarta hingga Proyeksi Bisnis Properti di Tahun Naga Kayu

Nurul Amirah Nasution , Jurnalis-Minggu, 28 Januari 2024 |07:12 WIB
12 Fakta Harga Tanah Jakarta hingga Proyeksi Bisnis Properti di Tahun Naga Kayu
Harga Tanah di Jakarta. (Foto: Okezone.com/MPI)
A
A
A

JAKARTA - Semakin lama, harga tanah di Jakarta semakin mahal. Setiap tahun, harganya selalu naik sehingga sangat cocok dijadikan investasi jangka panjang.

Berdasarkan penelusuran Okezone, Rabu, 24 Januari 2024, tanah di Jakarta memiliki harga yang cukup bervariasi. Mulai dari tanah di pusat kota ataupun di daerah-daerah tertentu tergantung wilayahnya.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi perbedaan harga tanah tersebut bergantung pada segi lokasi, pembangunan infrastruktur, permintaan, inflasi umum dan kondisi perekonomian di Jakarta sendiri.

Lain hal dengan proyeksi bisnis properti pada 2024. Pada tahun ini, bisnis properti di Indonesia diprediksi tumbuh lebih baik dibandingkan 2023. Meski berada di tahun politik, di mana masyarakat akan menentukan pilihan Presiden pada 14 Februari nanti. 

Berikut Okezone merangkum, pada Minggu (28/01/2024) 13 fakta harga tanah di Jakarta hingga proyeksi bisnis properti di tahun Naga Kayu.

1. Harga Tanah di Jakarta

Dilansir dari Data Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) dan Real Estate Indonesia (REI) tahun 2024, berikut adalah harga tanah per meter di Jakarta.

Jakarta Selatan - Rp40 juta hingga Rp60 juta

Jakarta Timur - Rp30 juta hingga Rp45 juta

Jakarta Barat - Rp25 juta hingga Rp40 juta

Jakarta Utara Rp20 juta hingga Rp35 juta

Jakarta Pusat - Rp 35 juta hingga Rp50 juta

2.Lokasi Tanah di Jakarta yang Strategis

Harga tanah sangat bergantung pada lokasi dimana tanah itu berada. Jakarta adalah pusat pemerintahan dan perekonomian di Indonesia sehingga berbagai kebutuhan masyarakat ada di kota ini. Dengan lokasinya yang sangat strategis, wajar jika harga tanahnya sangat mahal.

3. Aturan Membeli Tanah di Jakarta

Perlu diketahui, sebelum melakukan pembelian, masyarakat dapat terlebih dahulu mengakses Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 24 tahun 2020 mengenai Penetapan Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan Tahun 2020. Aturan ini dapat menjadi rujukan sebelum melakukan transaksi properti termasuk tanah dan bangunan.

4. Tanah Dikuasai oleh Beberapa Pihak

Penyebab harga tanah di Jakarta mahal juga karena banyaknya investor dan pengembang yang menguasai sebagian besar tanah di Jakarta. Para investor biasanya akan membeli banyak tanah, mengolahnya, dan menjual kembali dengan harga yang berkali-kali lipat lebih mahal. Semakin berkembang tanahnya, maka semakin mahal pula harganya.

5. Permintaan yang Meningkat

Penyebab lain harga tanah sangat mahal di Jakarta adalah meningkatnya minat masyarakat terhadap properti. Banyaknya masyarakat yang berminat untuk memiliki properti seperti mendirikan perumahan atau sebagainya menyebabkan melambungnya harga tanah.

6. Terletak di Kawasan Padat Penduduk

Lokasi tanah yang berada di kawasan padat penduduk juga dapat membuat harga tanah semakin melambung. Pasalnya, kawasan padat penduduk lebih banyak melakukan aktivitas pembangunan dan ekonomi yang lebih tinggi. Karena perkembangan inilah, harga tanah menjadi lebih mahal.

7. Adanya Benda yang Ada di Atas Tanah

Keberadaan benda-benda diatas tanah juga menjadi faktor kenaikan harga tanah. Tanah yang memiliki bangunan atau tanaman diatasnya biasanya memiliki harga yang lebih tinggi dibanding tanah kosong.

8. Optimis Bisnis Properti

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk merasa optimis dengan berbagai hal yang terjadi pada bisnis sektor properti di 2024.

“Kami memandang optimis guidance dari pemerintah di 5,2% pertumbuhan GDP. Kalau kita lihat pertumbuhan saat ini kan di 4,94% sampai 4,95% sudah ya,” kata Direktur Keuangan Bank BTN Nofry Rony Poetra, dikutip dari akun Youtube IDX Channel, Kamis, 14 Desember 2023.

“Sampai akhir tahun akan ada di 5% berarti memang kita melihat ada pertumbuhan yang bagus di GDP kita dan itu disupport oleh konsumsi masyarakat kita,” lanjutnya.

9. Pertumbuhan Real Estate Mencapai 2,75%

Pertumbuhan real estate sampai dengan kuartal III 2023 tumbuh sekitar 2,2%. Berdasarkan pada pertumbuhan GDP, maka pertumbuhan real estate nantinya bisa mencapai 2,5% hingga 2,75%.

Nofry melanjutkan, bahwa dia juga melihat dari sisi pertumbuhan kredit dengan target yang sudah ditetapkan Bank Indonesia (BI), yakni 10% hingga 12%.

“Sementara kami sendiri untuk di 2024 kita percaya bisa tumbuh lebih bagus dibandingkan dengan harga di 2023. Ini menuju harga 11% sampai 13% dan pertumbuhan kredit ini akan mensupport sekali,” jelasnya.

10. Kenaikan Harga Komoditas Berbanding Lurus

Deputy Group CEO Investment International Tech and Emerging Sinar Mas Land Ferdinand Sadeli juga meyakini bahwa kondisi bisnis properti di Indonesia semakin baik.

Menurutnya, kenaikan harga komoditas berbanding lurus dengan kenaikan harga properti. Ruang lingkup properti di Indonesia pun harus melengkapi tiga aspek, yaitu akses, fasilitas, dan infrastruktur sehingga nilai properti tersebut akan naik.

Terkait data penjualan dari enam perusahaan properti di Indonesia. Terbukti dari tahun 2017 hingga 2023 penjualan properti terus tumbuh secara konsisten dengan rata-rata Tingkat Pertumbuhan Tahunan Gabungan (CAGR) sebesar 2,85% sampai 3%.

“Terbukti properti ini masih terus tumbuh karena angka 3% tadi. Walau enggak sama, ada yang naik sedikit, ada yang naik cukup tinggi,” katanya dikutip dari Youtube Permata Bank, pada 4 Oktober 2023. 

11. Prospek Investasi Properti tahun 2024

Motivator Marketing Tung Desem Waringin menjelaskan prospek investasi sektor properti di tahun 2024, termasuk saat masa Pemilu di Februari mendatang.

“Kalau saya tahu persis bahwa pemerintah ini sedang fokus kepada supaya properti naik. Buktinya dibuat satu peraturan 2024 sampai dengan Bulan Juni bahwa pembelian properti di bawah Rp2 miliar bebas PPN,” jelasnya di akun Youtube Sinar Mas Land, Kamis, 7 Desember 2023.

Dirinya menghimbau untuk investasi ke hal-hal yang sedang diperhatikan atau disubsidi oleh pemerintah. Serta, apabila kondisi inflasi lebih besar dari bunga bank, maka itu saat yang tepat untuk memindahkan harta dari deposito atau tabungan ke emas atau properti.

“Properti ini banyak menangnya. Kalau inflasi lebih tinggi dari bunga bank, lebih baik pindah ke properti. Kalau investasi di properti, turunnya turun sedikit, tapi naiknya bukan naik lagi tapi ganti harga,” tutur Tung Desem. 

12. Properti Berdampak pada TOD

Business Development Director of MRT Jakarta Farchad H. Mahfud mengatakan, bahwa sektor properti berdampak pada perkembangan Kawasan Berorientasi Transit atau Transit Oriented Development (TOD). Contohnya pada proyek pembangunan MRT Jakarta Fase 2.

Farchad menjelaskan, tujuan dibangunnya TOD ini untuk mengubah pola mobilitas masyarakat secara jangka panjang dan berkelanjutan. Serta, dia melihat biaya bepergian semakin mahal dan menghabiskan banyak waktu di jalan.

“Dengan konsep TOD ini berharap memperbaiki akses mobilitas warga dan kita ingin improve. Caranya dengan bagaimana orang-orang bisa dengan mudah menjangkau MRT Jakarta,” ujarnya dikutip dari Youtube Permata Bank, pada 4 Oktober 2023.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement