"Saat ini kondisi suplai nasional mayoritas susu segara dari koperasi produsen yang kemudian disetorkan ke IPS. Hal ini menjadikan koperasi susu sangat bergantung pada kontrak pembelian susu dari IPS," ujarnya.
Namun, ungkap Budi, sejak kuartal II-2023, sejumlah IPS di Jawa Timur dilaporkan mengurangi penyerapan susu dari koperasi produsen susu akibat penurunan permintaan konsumen. Hal ini menyebabkan penumpukan stok susu pada cold storage koperasi produsen susu.
"Kondisi ini akhirnya mengharuskan untuk mengirimkan produksi susu mereka ke IPS besar di Jawa Barat yang telah mendiversifikasi produknya menjadi Susu utuh Bubuk (whole milk powder-WMP). Situasi ini hanya sementara dan akan berhenti ketika kondisi ekonomi membaik," ujarnya.
Menurut Budi, seharusnya produksi susu peternak seharusnya terserap semua. Pasalnya , dari konsumsi Nasional sebanyak 4,4 juta ton, 80% merupakan impor dan 20% dipenuhi dari susu Nasional.
"Impor susu kita 80% kebutuhan susu nasional sebagainya besar dari negara produsen penghasil susu. Tentu ini tidak boleh berlanjut, kita kan swasembada pangan, justru komponen penting swasembada pangan harus ditunjukan kemandiriannya," ujarnya.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.