Keempat, Perry menyoroti meningkatnya kerentanan sistem keuangan global, terutama terkait lonjakan transaksi produk derivatif yang berlipat di berbagai lembaga keuangan non-bank, termasuk hedge fund yang menggunakan algoritma machine trading. “Risiko pelarian modal dan tekanan nilai tukar di negara emerging market meningkat tajam jika terjadi guncangan pada instrumen-instrumen ini,” kata Perry.
Kelima, maraknya penggunaan uang kripto dan stablecoin yang diterbitkan pihak swasta juga menambah ketidakpastian. Belum adanya kerangka regulasi dan pengawasan yang memadai menimbulkan risiko baru bagi stabilitas keuangan. Karena itu, Perry menegaskan pentingnya pengembangan central bank digital currency (CBDC) sebagai instrumen pengaman sekaligus fondasi sistem pembayaran masa depan.