Nuzwan menambahkan, NINE akan terus melakukan penjajakan dan pengembangan berbagai peluang usaha di Indonesia maupun di kawasan regional guna memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi para pemegang saham. “Perkembangan ini juga berpotensi memberikan dampak material terhadap rencana investasi pertambangan Poh Group di Indonesia di masa mendatang, baik melalui skema Kerja Sama Operasi (Joint Operation) maupun kepemilikan langsung,” terang Nuzwan.
Aset tambang Mongolia yang akan diintegrasikan ke dalam NINE dimiliki 100% oleh Poh Kay Ping, yang saat ini menguasai dua konsesi pertambangan batu bara dan semi-soft coking coal. PGGR dan pihak-pihak terafiliasinya dalam Poh Group, termasuk NINE, akan terus mendorong kerja sama pertambangan lintas negara.
NINE berencana untuk mendaftarkan rights issue dalam rangka mengintegrasikan aset Mongolia selambat-lambatnya pada kuartal II-2026. Perseroan memastikan langkah akuisisi aset tambang Mongolia ini tidak berdampak terhadap kas perseroan. “Tidak terdapat biaya untuk mengakuisisi aset tambang Mongolia, aset tersebut akan dimasukkan ke dalam perseroan melalui proses PMHMETD,” jelas Nuzwan