JAKARTA - Laporan Japan Bank for International Cooperation (JBIC) Annual Survey FY2024 yang dirilis pada Juli 2025 menempatkan Indonesia di peringkat keempat sebagai negara paling menjanjikan bagi pengembangan bisnis perusahaan Jepang dalam jangka menengah.
Penilaian tersebut didorong oleh kekuatan pasar domestik dengan populasi hampir 280 juta jiwa, stabilitas pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur dan digitalisasi yang berkelanjutan, biaya produksi yang kompetitif, hingga peluang besar dalam transisi energi dan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.
Menurut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, kredibilitas kebijakan merupakan fondasi utama bagi investasi jangka panjang, khususnya bagi mitra seperti Jepang yang memiliki perencanaan lintas dekade. Ia menekankan pentingnya menjaga stabilitas fiskal, kesinambungan kebijakan, serta keseimbangan antara pertumbuhan serta perlindungan sosial.
“Bagi investor jangka panjang, yang paling penting bukan hanya potensi pertumbuhan, tetapi kepastian bahwa sebuah negara dikelola secara disiplin dan konsisten," ungkap Purbaya dalam forum Indonesia-Japan Executive Dialogue 2.0 yang digelar Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Jepang (PPIJ), dikutip Jumat (6/2/2026).
"Pemerintah Indonesia menjaga stabilitas fiskal, kesinambungan kebijakan, dan keseimbangan antara pertumbuhan serta perlindungan sosial agar investasi dapat tumbuh secara berkelanjutan, bukan hanya hari ini, tetapi juga 20-30 tahun ke depan," lanjutnya.
Purbaya menambahkan, prospek perekonomian Indonesia ke depan sangat cerah dan membutuhkan dukungan berkelanjutan dari para mitra strategis untuk mendorong pembangunan serta transformasi ekonomi nasional.
"Prospek Indonesia ke depan sangat cerah, dan kami mengundang dukungan berkelanjutan dari para mitra untuk bersama-sama mendorong pembangunan dan transformasi ekonomi nasional,” ujar Purbaya.
Sementara itu, Ketua Umum PPIJ sekaligus Ketua Liga Parlemen Indonesia-Jepang Rachmat Gobel menegaskan bahwa kualitas tata kelola dan kepercayaan merupakan elemen kunci dalam membangun kemitraan investasi jangka panjang antara kedua negara.
“Menuju 100 tahun hubungan Indonesia-Jepang, tantangan kita bukan hanya menarik investasi, tetapi membangun arsitektur kepercayaan agar investasi dapat tumbuh, bertahan, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi kedua negara. Kepercayaan tidak dibangun dari insentif semata, tetapi dari bagaimana sebuah negara mengelola dirinya secara konsisten dan bertanggung jawab,” ujar Rachmat Gobel.
Dia menambahkan, Indonesia-Japan Executive Dialogue menjadi bagian dari upaya berkelanjutan PPIJ untuk memperkuat kualitas kemitraan Indonesia-Jepang secara strategis dan berorientasi jangka panjang.
“Forum ini menjadi ruang untuk membangun kepercayaan, memperdalam kolaborasi, serta menyelaraskan kerja sama kedua negara dengan agenda transformasi ekonomi nasional, sehingga kemitraan yang terbangun relevan tidak hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk 100 tahun ke depan,” tandasnya.
(Dani Jumadil Akhir)