Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Subholding Downstream Pertamina Optimalisasi Operasional Hilir Migas, Jamin Pasokan BBM

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Sabtu, 07 Februari 2026 |14:26 WIB
Subholding Downstream Pertamina Optimalisasi Operasional Hilir Migas, Jamin Pasokan BBM
Subholding Downstream Pertamina Optimalisasi Operasional Hilir Migas, Jamin Pasokan BBM (Foto: Pertamina)
A
A
A

JAKARTA - PT Pertamina (Persero) resmi menggabungkan tiga anak usaha di sektor hilir, yaitu PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) dan PT Pertamina International Shipping (PIS) menjadi Subholding Downstream (SHD) Pertamina.

Dengan terbentuknya Subholding Downstream Pertamina diharapkan mampu meningkatkan optimalisasi operasional hilir migas. Dengan demikian, diharapkan pula mendukung Pertamina dalam menjamin pasokan BBM, yang pada akhirnya turut berperan dalam memperkuat ketahanan energi nasional.  

Optimalisasi Operasional Hilir Migas

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, pembentukan Subholding Downstream seharusnya memang bisa membuat operasional hilir lebih optimal. Dengan menjadikan PPN, PIS dan KPI ke dalam satu atap akan membuat proses operasional menjadi lebih sederhana. 

“Diharapkan memang optimalisasi operasional, karena integrasi akan membuat saling mendukung. Jadi, kalau satu rumah kan ibaratnya ketika ada pekerjaan, bisa dikerjakan bareng. Jadi lebih sederhana prosesnya,” kata Komaidi di Jakarta, Sabtu (7/2/2026).

Komaidi menambahkan, dengan proses yang lebih sederhana, maka segala urusan yang berkaitan dengan pengadaan atau distribusi BBM maupun elpiji, bisa dipenuhi dengan lebih cepat. Dengan demikian, bisa mendukung Pertamina dalam menjamin distribusi BBM dan elpiji kepada masyarakat.

Komaidi menyontohkan, ketika PPN berkomunikasi dengan KPI terkait kualitas BBM atau dengan PIS terkait pengangkutan minyak. Dalam kondisi demikian, proses bisa dilakukan lebih cepat, tanpa harus melalui prosedur antar lembaga, misal surat atau bahkan kontrak. 

”Misalkan PPN membutuhkan minyak dari Arab dan harus segera sampai dalam hitungan waktu tertentu. Maka, PPN tinggal memerintahkan atau berkomunikasi saja dengan kapal (PIS), karena satu atap. Jadi lebih sederhana,” jelasnya.

Stok BBM

Begitu juga ketika stok BBM ketika terjadi indikasi akan terjadi kelangkaan BBM di satu daerah. Maka sebagai antisipasi, Subholding Downstream tinggal memetakan, misal BBM akan disuplai dari kilang mana. Begitu pula dengan pengangkutan lewat kapal, bisa dilakukan lebih cepat. 
 
”Jadi tidak perlu Patra mengontak KPI lebih dulu, lalu KPI beli dulu minyaknya. Dengan terintegrasi, mungkin teknisnya sama, tapi administrasinya jauh lebih sederhana,” jelas Komaidi. 

”Jadi lebih cepat. Kalau dulu, ibaratnya, oke, isi form dulu dan lain sebagainya. Nah, sekarang karena satu atap, gak perlu isi form,” lanjutnya. 

Komaidi optimististis bahwa integrasi PPN, PIS dan KPI semakin mendukung Pertamina agar semakin andal, lincah, dan optimal. Termasuk dalam menghadapi Satgas Ramadhan dan Idulfitri 2026. 

”Dengan integrasi, harusnya lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Apalagi tahun-tahun sebelumnya Satgas Rafi Pertamina bisa dikatakan selalu berhasil dan konsumen selalu memberikan apresiasi  terhadap layanannya, terhadap produknya, terhadap aspek-aspek yang lainnya,” kata dia.  

 

Pembentukan Subholding Downstream 

Pertamina secara resmi membentuk Subholding Downstream pada 1 Februari 2026. Aksi korporasi penggabungan tersebut dilakukan melalui proses evaluasi yang mendalam termasuk melalui tahapan benchmarking terhadap perusahaan minyak dan gas bumi sejenis lainnya.

Pembentukan SHD bertujuan untuk meningkatkan optimalisasi operasional hilir, memperkuat kepastian pasokan energi nasional, serta meningkatkan daya saing perusahaan.

Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menyatakan bahwa langkah ini menjadi bukti nyata komitmen Pertamina dalam mengimplementasikan Astacita swasembada energi.

"Integrasi bisnis hilir berlaku per 1 Februari 2026 ini bukan sekadar perubahan organisasi, melainkan upaya penguatan fondasi untuk menjadikan Pertamina sebagai soko guru bangsa dalam penyediaan energi," kata Baron.

Dengan proses bisnis yang lebih efisien dan terintegrasi, lanjut dia, Pertamina memastikan pelayanan energi kepada masyarakat Indonesia semakin optimal dan tangguh dalam menghadapi tantangan global.

(Dani Jumadil Akhir)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement