JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta para pelaku pasar modal untuk tidak panik menghadapi fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat terkoreksi tajam akibat penurunan outlook Indonesia oleh Moody’s.
Purbaya menilai penilaian negatif tersebut tidak relevan dengan fakta lapangan dan data ekonomi terbaru yang justru menunjukkan performa impresif.
Purbaya menegaskan bahwa fondasi ekonomi nasional saat ini berada dalam posisi yang jauh lebih kuat daripada yang diperkirakan oleh lembaga pemeringkat internasional tersebut.
"Ya orang takut. Prospek ekonomi kita mungkin enggak bagus gara-gara sinyal dari Moody's. Padahal Moody's ke sini kan sebelum angka keluar. Sekarang lebih gampang menunjuknya. Pertumbuhan ekonominya 5,39 (persen pada kuartal IV). Paling tinggi dalam 5 tahun terakhir. Tahunannya 5,11 (persen). Lebih tinggi dari China," ujar Purbaya di Kompleks Parlemen, Senin (9/2/2026).
Purbaya meyakini bahwa volatilitas yang terjadi di pasar saham hanyalah reaksi sesaat akibat kekeliruan estimasi. Menurutnya, ketika pasar melihat realitas pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mampu melampaui raksasa ekonomi seperti China, kepercayaan investor akan pulih dengan sendirinya.
"Jadi kemungkinan besar ada yang salah hitung dari situ. Nanti yang ke depan, kalau kita jaga terus seperti ini, akan berubah juga dengan sendiri. Jadi orang di pasar modal enggak usah terlalu khawatir," tegasnya.
Purbaya mengungkapkan bahwa keberhasilan membalikkan keadaan pada kuartal keempat tahun lalu merupakan bukti bahwa strategi fiskal yang diambil pemerintah sudah tepat sasaran. Ia mengklaim pemerintah kini memiliki "senjata" yang pas untuk menjaga momentum pertumbuhan.
"Saya betul-betul memperbaiki fondasi ekonomi. Dan sudah terlihat di tribunalan keempat tahun lalu. Itu kan lagi mau jatuh, bisa kita balikin ke situ. Berarti kan kita punya senjata yang pas. Dan Anda harus yakin bahwa senjatanya memang pas banget untuk mendorong ke arah 6 persen," pungkas Purbaya.
Meskipun mengakui adanya risiko global, Purbaya menilai probabilitas ekonomi Indonesia untuk "nyungsep" sangatlah kecil. Fokus pemerintah ke depan adalah memastikan transmisi kebijakan fiskal terus memperkuat daya beli dan investasi guna mengejar target ambisius pertumbuhan ekonomi di level 6 persen.
(Dani Jumadil Akhir)