JAKARTA - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) memastikan keandalan produksi BBM dari Kilang Dumai, Riau dalam rangka menjaga kelancaran pasokan BBM nasional di tengah eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah (Timteng).
Pemerintah menempatkan Kilang Dumai sebagai salah satu simpul strategis dalam menjaga stabilitas pasokan energi domestik.
Pertamina Patra Niaga RU II Dumai merupakan salah satu kilang terbesar di Indonesia dengan kontribusi sekitar 16,5 persen dari total kapasitas pengolahan milik Pertamina.
Dengan kapasitas total 170.000 barel per hari, terdiri atas Kilang Dumai 120.000 barel per hari dan Kilang Sei Pakning 50.000 barel per hari.
“Dalam kunjungan lapangan, dipastikan RU II Dumai dalam kondisi yang optimal dapat memproduksi berbagai jenis BBM. Kami mengharapkan agar refinery ini terus dijaga keandalannya, sehingga dapat memenuhi produk-produk BBM untuk kebutuhan domestik. Secara khususnya untuk di Sumatera Bagian Utara,” ujar Anggota Komite BPH Migas Fathul Nugroho di sela kunjungan ke Dumai, Riau, Rabu (4/3/2026).
Menurut dia, kunjungan itu merupakan tindak lanjut instruksi Presiden Prabowo Subianto serta arahan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk memastikan operasional kilang domestik berjalan optimal dan tidak terdampak gejolak global.
Selain memproduksi gas oil seperti solar dan turunannya, kilang ini juga menghasilkan green avtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) sebagai bagian dari dukungan terhadap program transisi energi berkelanjutan. Produksi SAF dinilai menjadi langkah konkret dalam menyiapkan sektor energi menghadapi tuntutan dekarbonisasi global.
Pemerintah, melalui BPH Migas bersama Pertamina, berkomitmen menjaga ketersediaan dan distribusi BBM domestik agar tetap aman dan lancar. Operasional kilang yang andal dipastikan menjadi tameng utama agar pasokan energi nasional tidak terganggu dinamika geopolitik internasional.